Dua Raja Solo Bersua di Masjid Agung, Saling Abaikan di Tengah Polemik Tahta

- Jumat, 21 November 2025 | 21:25 WIB
Dua Raja Solo Bersua di Masjid Agung, Saling Abaikan di Tengah Polemik Tahta

Suasana Jumat siang di Masjid Agung Solo terasa berbeda dari biasanya. Dua sosok yang sama-sama mengklaim sebagai Susuhunan Pakubuwono XIV hadir dalam waktu berdekatan untuk menunaikan salat Jumat. Hangabehi dan Purboyo, keduanya, hadir di tengah riuh rendah polemik dualisme takhta Keraton Kasunanan Surakarta.

Hangabehi datang lebih dulu. Dengan berjalan kaki dari keraton yang jaraknya sekitar 800 meter, ia memasuki masjid dengan tenang. Pilihannya jatuh pada saf bagian kiri paling depan, tak jauh dari mimbar.

Tak lama berselang, sekitar pukul 11.05 WIB, Purboyo tiba. Ia menggunakan mobil Mitsubishi Pajero putih, dikelilingi kerabat dan abdi dalem. Berbeda dengan Hangabehi, Purboyo memilih salat di area belakang imam.

Yang menarik, meski berada dalam satu ruang ibadah yang sama, keduanya sama sekali tak berinteraksi. Mereka salat dengan khusyuk, larut dalam jamaah lain yang memadati masjid bersejarah itu.

Begitu salat usai, Purboyo buru-buru meninggalkan ruangan. Ia kemudian menuju kantor takmir masjid, ditemani oleh KRT Muhammad Muhtarom, sang Ketua Takmir yang juga menjabat sebagai Penghulu Tafsir Anom. Di sana, mereka berbincang santai seputar manuskrip sejarah keraton.

“Barusan membahas manuskrip sejarah. Saya masih muda, jadi banyak belajar. Intinya, kalau niatnya baik pasti hasilnya baik,” ujar Purboyo.

Sementara itu, Hangabehi memilih untuk langsung berjalan kaki pulang. Rupanya, ia sudah sempat bersilaturahmi ke kantor takmir pada pekan sebelumnya, jadi tak perlu mampir lagi.

Saat sejumlah wartawan mencoba menanyakan tanggapannya tentang penobatan adiknya beberapa hari lalu, Hangabehi hanya menggeleng halus.

“Saya hanya ingin menjalankan ibadah Jumat. Belum ingin memberikan komentar apa pun, ngapunten,” katanya singkat, lalu pergi.

Kedua raja yang berselisih itu akhirnya meninggalkan Masjid Agung dengan damai, tanpa insiden. Jamaah lain pun bubar, meninggalkan masjid yang kembali sunyi, meski pertanyaan tentang siapa pemegang sah takhta Surakarta masih menggantung di udara.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar