Hi!Pontianak – Daun kratom, harta hijau Kalimantan Barat, kini resmi dibahas di gedung DPR. Ada wacana serius untuk memasukkannya ke dalam RUU Komoditas Strategis. Tujuannya jelas: agar ada standar baku, kepastian hukum yang lebih baik, dan yang tak kalah penting, perlindungan nyata bagi para petani dan pengusaha yang selama ini menggantungkan hidupnya pada tanaman ini.
Posisi Indonesia di pasar global nyaris tak tertandingi. Negeri ini menguasai 95 persen pasokan kratom dunia. Bayangkan, nilai ekspornya diperkirakan tembus 30 hingga 50 juta Dolar AS per tahun. Yang lebih menggembirakan, permintaan internasional terus melesat 30-40 persen setiap tahunnya. Peluangnya terbentang luas.
Daniel Johan, anggota DPR asal Kalbar, mengungkapkan bahwa parlemen punya kemauan politik yang kuat untuk mendorong kratom masuk RUU. "Ini bukan sekadar urusan bisnis," katanya. Menurutnya, langkah ini bisa menjadi senjata ampuh untuk menekan angka kemiskinan dan sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan.
Di sisi lain, kratom ternyata punya nilai ekologis yang tak boleh dipandang sebelah mata. Tanaman ini dikenal ramah lingkungan dan efektif mencegah banjir di kawasan Kalimantan. Bahkan, potensinya sebagai tanaman konservasi patut dipertimbangkan.
"Dan yang terpenting," tegas Daniel, "Indonesia akan dikenal dunia karena telah memberikan sumbangan terbesar di bidang kesehatan."
Dukungan juga datang dari internal pemerintah daerah. Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menyambut baik langkah DPR. Baginya, kratom sudah lama melampaui batas-batas regional. Ini adalah komoditas dunia yang dikonsumsi masyarakat internasional, sehingga kualitasnya wajib dijaga mati-matian.
"Saya sambut baik perjuangan teman-teman DPR RI untuk menjadikan kratom sebagai tanaman komoditas strategis," ujar Krisantus di ruang kerjanya, Kamis, 20 November 2025. Keyakinannya tak main-main. "Saya yakin dan percaya Kalbar menjadi sentral kratom, memproduksi kratom terbesar di dunia."
Ia bercerita tentang pengalamannya memberikan edukasi di Kota Putussibau. Krisantus menegaskan, Kabupaten Kapuas Hulu yang menjadi jantung produksi kratom harus konsisten menjaga mutu. Memang, tanaman ini punya sifat yang unik. Ia cocok ditanam di tepi pantai dan bahkan di kawasan rawan banjir karena ketahanannya terhadap air.
"Saya sangat mendukung kratom. Bahkan saya pergi ke Kapuas Hulu, memberikan edukasi kepada petani kratom di sana untuk terus menjaga kualitas," kenangnya. "Kratom terbaik itu dari Kabupaten Kapuas Hulu."
Namun begitu, Wagub Kalbar ini punya pesan keras untuk para petani. Ia menekankan agar mereka tidak tergoda untuk mengejar jumlah produksi dengan cara-cara yang justru merusak kualitas.
"Mulai sekarang, para petani kratom, saya bilang, jagalah kualitas kratom Kapuas Hulu," pesannya tegas. "Karena kratom ini satu komoditi yang sudah mendunia. Jangan lagi dicampur daun singkong, jangan dicampur batangnya untuk memperbanyak produksi. Ini adalah tindakan-tindakan atau praktik-praktik yang tidak baik karena akan berdampak kepada kualitas."
Nada seriusnya terdengar jelas. Masa depan komoditas andalan ini, rupanya, tak hanya bergantung pada regulasi di Jakarta, tetapi juga pada kesadaran dan integritas para pelaku di lapangan.
Artikel Terkait
Meksiko Hajar Afrika Selatan 2-0 di Laga Perdana Piala Dunia 2026, Diwarnai Tiga Kartu Merah
Raffi Ahmad Bantah Terlibat Kasus Suap Impor Ilegal, Hotman Paris Siapkan Langkah Hukum
Rehan/Gloria Tembus Perempat Final Australian Open 2026 Usai Kalahkan Wakil Chinese Taipei
PTDI Sulap Dua Boeing 737-200 Terbengkalai Selama 20 Tahun Jadi Sarana Edukasi Kedirgantaraan