Diduga Ada Perantara yang Buka Akses Penculikan Bilqis ke Suku Anak Dalam

- Jumat, 21 November 2025 | 16:54 WIB
Diduga Ada Perantara yang Buka Akses Penculikan Bilqis ke Suku Anak Dalam
Kasus Bilqis: Upaya Pelacakan dan Situasi Terkini di Suku Anak Dalam

Dinas Sosial Perlindungan Perempuan dan Anak (Dinsos PPA) Kabupaten Merangin, Jambi, masih terus memantau perkembangan kasus penculikan Bilqis. Mereka memang punya peran krusial, terutama karena intens mendampingi komunitas Suku Anak Dalam (SAD). Bahkan, dinas ini sebelumnya turun langsung membantu kepolisian dalam proses penjemputan korban.

Azrul Affandi, Pekerja Sosial Ahli Muda di Dinsos PPA Merangin, adalah salah satu yang ikut menjemput Bilqis dan dikenal dekat dengan SAD. Menurutnya, ada yang janggal. Ia menduga ada satu orang yang dipercaya oleh kelompok Suku Dalam itu yang mengenalkan mereka pada Meriana alias Meri. Soalnya, orang dalam SAD biasanya tidak gampang percaya pada orang baru.

Meri sendiri adalah tersangka dalam kasus penculikan dan TPPO Bilqis. Modusnya cukup kejam: dia membeli Bilqis dari Nadia Hutri seharga Rp 30 juta, lalu menjualnya lagi ke Suku Anak Dalam. Caranya? Meri mengaku sebagai orang tua kandung Bilqis yang tak sanggup lagi merawat dan terpaksa menjual anaknya.

"Pasti ada yang kasih kepercayaan bahwa anak itu aman," tegas Azrul kepada media pada Jumat (21/11). "Intinya, harus dicari dulu siapa yang perkenalkan Meri ke SAD. Pasti ada yang jadi perantara komunikasi, yang meyakinkan bahwa anak itu boleh diadopsi dan kondisinya aman."

Karena itu, Azrul menegaskan bahwa orang yang menjadi perantara itu harus segera ditangkap polisi. "Pokoknya, cari dulu siapa pengenal awalnya. Dalam urusan apa pun, termasuk adopsi Bilqis, kalau tidak ada yang kasih 'jaminan', mana mungkin mereka terima orang datang begitu saja," tambahnya.

Azrul juga bercerita bahwa biasanya kelompok SAD yang dia dampingi seperti kelompok Tumenggung Sikar dan Begendang selalu menghubunginya jika ada keputusan penting yang akan diambil. Tapi, untuk urusan adopsi Bilqis, mereka sama sekali tidak memberi kabar.

Belum Ada Info Anak Lain yang Diadopsi

Gatot, Kepala Bidang Pemberdayaan Dinsos PPA Merangin, menjelaskan bahwa ada 15 kelompok Suku Anak Dalam atau Orang Rimba yang tersebar di enam kecamatan. Wilayahnya meliputi Pamenang, Bangko Barat, Nalo Tantan, Tabir, dan Tabir Selatan. Selain di Merangin, komunitas SAD juga ada di kabupaten lain.

Dari semua kelompok itu, pihaknya belum menerima laporan adanya anak adopsi lain selain Bilqis. "Tapi, kami dapat info dari polisi bahwa pengakuan Meri menyebut ada anak lain yang dibawa ke suku pedalaman. Hanya saja, kita belum tahu ke mana saja anak-anak itu," ujar Gatot.

Di sisi lain, Azrul juga mengonfirmasi bahwa sampai sekarang belum ada pengaduan resmi terkait kehilangan anak. "Meski kasus ini sudah ramai, belum ada yang melapor. Padahal, kalau ada bayi hilang, seharusnya langsung datang ke kami," katanya.

Yang dia ketahui, ada bayi berusia satu sampai dua bulan yang disusui dan dirawat oleh SAD. Katanya, bayi itu adalah anak dari ibu yang hamil di luar nikah, sehingga dibantu pengasuhannya oleh komunitas tersebut. Tidak ada indikasi penjualan atau adopsi ilegal dalam kasus itu.

Namun begitu, situasi di dalam komunitas Suku Anak Dalam saat ini masih tegang. Sejak kasus Bilqis dan Kenzie mencuat, plus beberapa kasus lain yang menyudutkan mereka, suasana jadi 'panas'. Azrul menyarankan agar polisi melakukan pendekatan persuasif, tidak langsung masuk paksa.

"Kemarin polisi mau ke sini, saya bilang tunggu dulu, belum berani masuk. Soalnya lagi panas-panasnya kasus Meri ini. Nanti kalau sudah adem ayem, baru kita bantu jembatani," pungkas Azrul.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar