"Bayangkan, di semua tempat di NTB bendungan tidak bisa dipakai karena tidak ada jaringan irigasinya. Ini menunjukkan perencanaan yang tidak komprehensif," ujar Mori.
Lebih lanjut, Mori menyoroti pembangunan Bendungan Tanju di NTB yang menelan anggaran lebih dari Rp1 triliun. Meski telah mengucurkan dana fantastis, bendungan tersebut hingga kini belum dapat dimanfaatkan secara optimal dan masih terkendala masalah agraria.
"Dua bendungan di lokasi tersebut sampai sekarang tidak bisa dipakai dan tanahnya bermasalah. Ini harus menjadi pelajaran berharga bagi pemerintahan mendatang," tegasnya.
Mori menekankan perlunya pendekatan baru dalam perencanaan pembangunan bendungan ke depan. Dia mengusulkan integrasi multifungsi pada setiap proyek bendungan, termasuk pengendalian banjir, sistem penyediaan air minum (SPAM), pengembangan perikanan, dan potensi pariwisata.
"Pembangunan bendungan harus dilihat sebagai investasi strategis yang memberikan manfaat berkelanjutan, bukan sekadar proyek fisik semata. Perhitungan manfaat harus dilakukan secara komprehensif sebelum anggaran dikucurkan," pungkas Mori.
Kritik ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam merancang kebijakan infrastruktur ke depan, khususnya dalam memastikan setiap proyek bendungan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan ketahanan air nasional.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Tolak Proyeksi Bank Dunia, Sebut Pertumbuhan RI 2026 Bisa Tembus 5%
Pengamat: Iran Berjuang Pertahankan Martabat, Dukungan Internal Menguat
Jenazah Lansia Pemulung Ditemukan dalam Reruntuhan Gubuk Terbakar di Antang
Pemuda di Makassar Aniaya Ibu Kandung Usai Ibu Marahi Nenek