Rekrutmen dimulai dari platform terbuka dengan menyebarkan visi utopia yang menarik fantasi anak-anak. Selanjutnya, korban diarahkan ke grup privat terenkripsi untuk proses indoktrinasi lebih intensif.
Teknik pencucian otak dilakukan dengan membandingkan nilai-nilai fundamental. "Contohnya, mereka bertanya mana yang lebih baik, Pancasila atau kitab suci?" papar Mayndra. Pertanyaan semacam ini menjadi pintu masuk penanaman ideologi ekstrem.
Strategi Pencegahan Multisektor
Densus 88 berkoordinasi dengan BNPT dan Komdigi memperkuat konten positif dan memantau ancaman di ruang digital. Pendekatan pencegahan mencakup aspek fisik dan ideologis secara menyeluruh.
Tindakan cepat Densus 88 tidak hanya melindungi fasilitas vital negara, tetapi juga menyelamatkan masa depan anak-anak yang menjadi korban rekrutmen. "Preventive strike ini untuk melindungi keamanan objek vital dan keselamatan umum, termasuk keselamatan anak-anak yang direkrut," tutup Mayndra.
Artikel Terkait
Iran Klaim Campur Tangan Asing, 51 Korban Jiwa Tewas dalam Gelombang Unjuk Rasa
Isu Kabur dan Aset Miliaran: Mengapa Narasi Pelarian Khamenei Tak Menyentuh Realitas?
KPK Gelar OTT di Kantor Pajak Jakarta Utara, Dugaan Manipulasi Pengurangan Pajak
Poligami Dihukum Lebih Berat, Kohabitasi Diringankan: Paradoks KUHP Baru