Rekrutmen dimulai dari platform terbuka dengan menyebarkan visi utopia yang menarik fantasi anak-anak. Selanjutnya, korban diarahkan ke grup privat terenkripsi untuk proses indoktrinasi lebih intensif.
Teknik pencucian otak dilakukan dengan membandingkan nilai-nilai fundamental. "Contohnya, mereka bertanya mana yang lebih baik, Pancasila atau kitab suci?" papar Mayndra. Pertanyaan semacam ini menjadi pintu masuk penanaman ideologi ekstrem.
Strategi Pencegahan Multisektor
Densus 88 berkoordinasi dengan BNPT dan Komdigi memperkuat konten positif dan memantau ancaman di ruang digital. Pendekatan pencegahan mencakup aspek fisik dan ideologis secara menyeluruh.
Tindakan cepat Densus 88 tidak hanya melindungi fasilitas vital negara, tetapi juga menyelamatkan masa depan anak-anak yang menjadi korban rekrutmen. "Preventive strike ini untuk melindungi keamanan objek vital dan keselamatan umum, termasuk keselamatan anak-anak yang direkrut," tutup Mayndra.
Artikel Terkait
KPK Periksa Belasan Pejabat Tulungagung Usai OTT Bupati
KPK Tangkap Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo dalam Operasi di Jatim
Siswa Tewas Usai Senapan Rakitan Meledak Saat Ujian Praktik di Siak
ASN Kementan Ubah Pekarangan Sempit Jadi Model Ketahanan Pangan Keluarga