Kebenaran seringkali menyakitkan, sedangkan kebohongan bisa memberikan kenyamanan sesaat. Ketika lingkungan memprioritaskan harmoni palsu daripada keberanian untuk jujur, kebohongan menjadi norma sosial yang diterima.
Kekuasaan dan Politik Kebohongan
Kebohongan memiliki fungsi politik yang sangat kuat dalam struktur kekuasaan. Kebohongan sering dipakai untuk:
- Mengontrol informasi dan pengetahuan publik
- Alat propaganda untuk mempertahankan kekuasaan
- Menyembunyikan kebenaran untuk menjaga stabilitas
Ketika kebohongan dilindungi oleh kekuasaan, ia berubah menjadi narasi resmi. Siapa pun yang mencoba menyampaikan kebenaran bisa diberi label negatif seperti "pembuat onar" atau "pengkhianat".
Budaya Kebohongan yang Terwariskan
Kebohongan sering diwariskan dari generasi ke generasi, baik dalam keluarga, institusi, maupun lingkungan kerja. Ketika suatu kelompok terbiasa menyembunyikan fakta dan menutupi masalah, kebohongan menjadi norma yang diterima. Orang baru yang masuk ke dalam sistem akan dipaksa menyesuaikan diri jika ingin diterima.
Dampak Jangka Panjang Kebohongan yang Dipelihara
Meskipun kebohongan bisa memberi keuntungan jangka pendek, dampak jangka panjangnya sangat merusak:
- Hilangnya kepercayaan publik
- Rusaknya hubungan dan reputasi
- Penurunan moral masyarakat
- Ketidakadilan yang berkelanjutan
- Kematian kebenaran secara perlahan
Kejujuran sebagai Bentuk Perlawanan
Kebohongan dipelihara karena memberikan keuntungan, perlindungan, dan kemudahan. Kebenaran, sebaliknya, sering menyakitkan dan berisiko. Namun tanpa kebenaran, tidak ada keadilan, pemulihan, atau kedewasaan. Kejujuran mungkin berat, tetapi ia adalah pondasi kepercayaan dan kemanusiaan. Menjadi jujur di dunia yang korup adalah tindakan berani dan bentuk perlawanan moral yang nyata.
Artikel Terkait
Bandara Arung Palakka Resmi Buka Rute Langsung ke Morowali
Ketua Gema Bangsa Usulkan Ganti Parliamentary Threshold dengan Ambang Batas Fraksi
Bupati Bone Apresiasi Dukungan Warga dan Sampaikan Capaian di Safari Ramadan
Harga Emas Antam Turun Rp45.000 per Gram, Harga Buyback Justru Naik