Beberapa daerah seperti Kota Mojokerto, Salatiga, Tegal, dan Semarang telah menerbitkan peraturan daerah khusus toleransi, menunjukkan komitmen hukum yang kuat meski menghadapi tantangan politik kompleks.
2. Inovasi Program Berbasis Kolaborasi
Kota Singkawang mengembangkan kampanye toleransi ke tingkat akar rumput melalui sinergi dengan pemuda. Kabupaten Mimika memperkuat harmoni masyarakat dengan platform mitigasi konflik dan dukungan anggaran besar untuk dialog lintas iman. Kota Kediri memadukan pendidikan dan budaya melalui parade lintas agama dan Sekolah Moderasi.
3. Pendekatan Kontekstual dan Transformasi Daerah
Kota Sukabumi fokus pada literasi digital pasca insiden berbasis agama. Kota Bogor menunjukkan transformasi signifikan dengan menyelesaikan kasus intoleransi melalui koordinasi pemerintah dan masyarakat. Kabupaten Muara Enim mengintegrasikan toleransi sebagai indikator kinerja utama.
4. Strategi Mengatasi Tantangan Toleransi
Berbagai daerah masih menghadapi tantangan seperti isu identitas, misinformasi digital, dan warisan konflik masa lalu. Peran generasi muda dinilai strategis dalam mendukung keberlanjutan kebijakan toleransi melalui partisipasi langsung.
Rencana Aksi Ke Depan
Sebagai tindak lanjut konferensi, peserta sepakat pada tiga komitmen utama:
- Penyusunan produk hukum daerah untuk akselerasi pemajuan toleransi
- Pengembangan program penguatan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat
- Peningkatan kolaborasi dengan masyarakat untuk memperkuat keberagaman Indonesia
Konferensi Kota Toleran 2025 membuktikan bahwa pembangunan masyarakat toleran memerlukan proses bertahap, komitmen jangka panjang, dan sinergi antara kepemimpinan politik, birokrasi, dan kemasyarakatan.
Artikel Terkait
Mobil Toyota Agya Meledak Jadi Bara di Halaman SMK Sragen
Ledakan Pipa Gas TGI Guncang Dusun Nibul, Api Membubung 15 Meter
Banjir Akhir 2025: Duka yang Berulang dan Peringatan untuk 2026
LPSK Siap Lindungi Aktivis yang Terintimidasi di Wilayah Bencana