Boikot Starbucks: Gerakan "No Contract, No Coffee" Menggema di Media Sosial
Isu boikot Starbucks kembali mencuat setelah Wali Kota-terpilih New York City, Zohran Mamdani, mengajak publik untuk menghentikan pembelian produk Starbucks hingga perusahaan menyepakati kontrak dengan para pekerjanya.
Kampanye "No Contract, No Coffee" Viral di Media Sosial
Gerakan boikot Starbucks dengan tagar "No Contract, No Coffee" kini menyebar luas di platform media sosial dan komunitas buruh. Aksi ini berawal dari perselisihan panjang antara Starbucks dan serikat pekerja yang memperjuangkan kontrak kerja lebih adil, termasuk kenaikan upah, kondisi kerja yang layak, serta perlindungan bagi barista yang aktif dalam organisasi serikat.
Dukungan Moral untuk Pekerja yang Mogok
Mamdani menegaskan bahwa boikot Starbucks merupakan bentuk dukungan moral kepada para pekerja yang sedang melakukan mogok kerja. Menurutnya, tekanan dari publik sangat diperlukan untuk mendorong perusahaan global seperti Starbucks menyelesaikan negosiasi dan memberikan komitmen nyata terhadap kesejahteraan karyawan.
Artikel Terkait
Brimob Tembak Warga di Tambang Ilegal Bombana, Empat Personel Diperiksa Propam
Iran Padamkan Internet, Tuding AS dan Israel Picu Kerusuhan dari Aksi Damai
Dentuman Kembali di Aleppo, 22 Nyawa Melayang dalam Bentrokan
Gaji Dua Digit: Simbol Prestasi atau Jerat Kecemasan?