Di tengah memudarnya pengaruh tersebut, sentimen sebagian masyarakat terhadap Jokowi tampaknya belum mereda. Isu seputar dokumen ijazah yang diduga palsu terus menjadi alat untuk menjatuhkan kredibilitasnya. Isu ini telah berlangsung bertahun-tahun dan memasuki babak baru dengan ditersangkannya delapan orang terkait kasus ini pada awal November 2025.
Tindakan penersangkaan ini memunculkan pertanyaan mendalam. Apakah langkah ini murni merupakan ekspresi kekecewaan pribadi atau bagian dari sebuah manuver politik yang terencana? Banyak yang mempertanyakan rasionalitas langkah ini, mengingat Jokowi saat ini memiliki beban untuk memastikan masa depan politik ketiga anaknya. Membawa-bawa isu ini ke ranah hukum justru berpotensi mencemari panggung politik mereka dan dianggap sebagai langkah yang kontra-produktif.
Antara Luka Hati dan Rasionalitas Politik
Sebagai manusia, wajar jika Jokowi merasa terluka dengan berbagai kritik dan hujatan terkait isu ijazah, sama seperti wajar adanya luka di pihak-pihak yang merasa menjadi korban kebijakannya di masa lalu. Namun, sebagai politisi ulung, ekspresi dari luka hati ini berpotensi mempersempit ruang gerak politik para penerusnya.
Di sisi lain, Jokowi dikenal sebagai politisi dengan manuver yang sulit ditebak. Terdapat kemungkinan bahwa di kemudian hari, jika dokumen asli ijazah tersebut ada dan dapat ditunjukkan, Jokowi akan mencabut tuntutan dan mendeklarasikan pengampunan terhadap para tersangka. Langkah semacam itu akan menegaskan posisinya sebagai begawan politik yang mampu mengedepankan rasionalitas dan keluhuran budi di atas dendam pribadi.
Pilihan yang akan diambil Jokowi selanjutnya apakah memaafkan atau membiarkan proses hukum berjalan akan membawa konsekuensi politiknya masing-masing. Masyarakat pun menanti, akankah Jokowi tampil sebagai negarawan bijak atau tetap pada pendiriannya? Semuanya masih menjadi tanda tanya besar dalam peta politik Indonesia.
Semarang, 16 November 2025
Artikel Terkait
Pencarian Syafiq Ridhan di Gunung Slamet: Tongkat dan Doa Seorang Ayah di Hutan Belantara
Royman dan Alarm Demokrasi: Saat Watchdog Dihantam di Morowali
Kiai Didin: Di Balik Kesulitan, Selalu Ada Kemudahan
Mantan Misionaris yang Berburu Cacat Al-Quran, Justru Tersungkur di Ayat Ini