Cincin Batu Akik Bandung Mulai Rp 25.000? Temukan di Sini!

- Sabtu, 15 November 2025 | 15:24 WIB
Cincin Batu Akik Bandung Mulai Rp 25.000? Temukan di Sini!
Kisah Manto: Perajin Cincin Batu Akik di Jantung Bandung | Harga Terjangkau

Manto dan Seni Cincin Batu Akik di Tengah Hiruk Pikuk Bandung

Dengan jari-jari yang berkeriput, Manto dengan cermat menyelesaikan sebuah cincin batu akik untuk pelanggannya. Di sebelahnya, sebuah kotak kayu menyimpan koleksi beragam batu akik yang siap menemui pemilik barunya. Suasana ini berlangsung di sela keramaian Jalan Asia Afrika, Bandung, sebuah kontras yang harmonis antara ketenangan sang perajin dan gegap gempita para pelancong.

Manto, seorang perantau asal Pemalang, telah mengabdikan dua puluh tahun hidupnya untuk berjualan batu akik di Kota Bandung. Awal mula ketertarikannya sederhana: hobi dan kecintaannya pada seni. "Saya ke Bandung memang dengan niat khusus untuk berdagang batu akik. Ini adalah bentuk seni bagi saya," tuturnya mengenai pilihannya meninggalkan profesi sebagai petani di kampung halaman.

Harga Cincin Batu Akik yang Terjangkau untuk Semua Kalangan

Salah satu daya tarik utama dari dagangan Manto adalah harganya yang sangat terjangkau. Cincin batu akik koleksinya bisa dimiliki mulai dari harga Rp 25.000 saja. Yang mengejutkan, tren batu akik tidak hanya diminati oleh kolektor senior, tetapi juga menarik perhatian generasi muda Bandung. "Minat itu datang dari dalam diri. Kalau sudah suka, mereka akan datang sendiri. Anak muda pun banyak yang membeli," ujarnya.

Rutinitas Berjualan dan Kehidupan Sehari-hari Seorang Perajin Akik

Untuk menopang kehidupannya, Manto berjualan secara keliling ke berbagai titik strategis di Bandung. Mulai dari Alun-alun Bandung, area Gasibu, hingga kawasan Punclut menjadi saksetia perjalanannya mencari rezeki. Ia tinggal secara kontrakan bersama rekan-rekan sesama penjual cincin, yang juga tersebar di berbagai lokasi seperti Soreang.

Meski penghasilannya tidak tetap, Manto mengaku cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. "Dalam berjualan, semuanya tergantung rezeki. Yang penting, ini bisa mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari," katanya dengan sikap rendah hati. Ikatan dengan tanah kelahirannya pun tidak pernah putus. Manto masih sesekali pulang ke Pemalang, terutama ketika musim tanam tiba, menjembatani dua kehidupannya yang berbeda.

Kisah Manto adalah potret nyata tentang ketekunan, kesederhanaan, dan kecintaan pada warisan budaya Indonesia seperti batu akik. Di usia yang tak lagi muda, semangatnya untuk terus berkarya dan berbagi keindahan batu akik kepada masyarakat Bandung dan para pelancong tetap membara.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar