Masalah tidak berhenti pada penyertaan modal. WIKA juga masih menghadapi sengketa atau dispute konstruksi dalam proyek Kereta Cepat Whoosh yang hingga kini belum menemui titik terang. Adanya dispute proyek ini semakin memperburuk kondisi keuangan perusahaan yang sudah terhimpit berbagai kewajiban.
Beban Usaha WIKA Melonjak Tajam
Analisis laporan keuangan WIKA mengungkap beberapa pos beban yang mengalami kenaikan luar biasa. Beban lain-lain perusahaan membengkak hingga 310 persen menjadi Rp 5,40 triliun. Sementara itu, beban keuangan juga naik signifikan sebesar 133,7 persen menjadi Rp 3,20 triliun.
Pembengkakan beban ini menunjukkan bahwa cost overrun atau pelampauan anggaran dan pembiayaan proyek telah berubah menjadi beban nyata yang langsung memukul neraca keuangan WIKA.
Obligasi Berubah Jadi Beban Tambahan
Upaya WIKA untuk memperoleh pendanaan segar melalui penerbitan obligasi justru berbalik membebani perusahaan. Total bunga obligasi yang kini harus ditanggung perusahaan telah mencapai Rp 11 triliun.
Kebijakan penerbitan obligasi memang diperlukan untuk mendapatkan pendanaan, namun konsekuensinya adalah membengkaknya beban bunga yang harus dibayar perusahaan. Situasi ini memaksa manajemen WIKA untuk bekerja lebih keras dalam memulihkan kesehatan finansial perseroan yang terkendala oleh proyek kereta cepat.
Dampak proyek Kereta Cepat Whoosh terhadap kinerja WIKA menjadi perhatian serius berbagai pihak, mengingat besarnya kontribusi BUMN ini dalam pembangunan infrastruktur nasional.
Artikel Terkait
Kembang Api dan Teriakan untuk Pahlavi Warnai Malam Teheran yang Masih Bergejolak
Gemblengan Semi-Militer Siapkan 1.500 Petugas Haji Tangguh
Pramono Anung Tegaskan JPO Sarinah Akan Dibangun Kembali, Utamakan Akses Difabel
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan