Lima Negara NATO Tuduh Rusia Racun Navalny dengan Epibatidine

- Minggu, 15 Februari 2026 | 06:00 WIB
Lima Negara NATO Tuduh Rusia Racun Navalny dengan Epibatidine

Kematian Navalny menambah daftar panjang musuh politik Kremlin yang tewas dalam keadaan mencurigakan. Sebelumnya, pada 2020, Navalny juga menjadi korban percobaan pembunuhan menggunakan agen saraf, yang ia tuduh dilakukan oleh negara. Setelah dirawat di Jerman, ia kembali ke Rusia hanya untuk langsung ditangkap dan dihukum penjara dengan tuduhan yang dianggap banyak pengamat bermotif politik.

Dukungan Keluarga dan Respons Politik

Dalam perkembangan terpisah di Konferensi Keamanan Munich, Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper bertemu dengan Yulia Navalnaya, janda mendiang Alexey Navalny. Cooper menegaskan bahwa temuan baru ini mengungkap rencana biadab Kremlin untuk membungkam suara sang oposan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyampaikan kecaman keras melalui platform media sosial. Ia menulis bahwa dugaan keracunan ini menunjukkan kesiapan Vladimir Putin menggunakan senjata biologis terhadap rakyatnya sendiri demi mempertahankan kekuasaan.

Di sisi lain, Yulia Navalnaya menyampaikan pernyataan berisi duka sekaligus ketegasan. Baginya, temuan ilmiah ini merupakan penguatan atas keyakinannya selama ini.

“Dua tahun lalu, saya naik ke panggung di sini dan mengatakan bahwa Vladimir Putin-lah yang membunuh suami saya,” kenang Navalnaya.

“Tentu saja, saya yakin itu adalah pembunuhan, tetapi saat itu, itu hanya kata-kata. Tetapi hari ini kata-kata ini telah menjadi fakta yang terbukti secara ilmiah,” tegasnya.

Pola dan Preseden Kasus Keracunan

Kasus Navalny ini mengingatkan pada sejumlah insiden serupa yang melibatkan mantan agen atau kritikus Rusia di tanah asing. Inggris, misalnya, telah menyelesaikan penyelidikan publik atas keracunan mantan agen ganda Sergei Skripal pada 2018, yang menyimpulkan bahwa Putin secara pribadi memerintahkan serangan dengan racun Novichok. Sebelumnya, penyelidikan atas kematian Alexander Litvinenko pada 2006 juga menyimpulkan bahwa pembunuhan dilakukan oleh dua agen Rusia dengan menggunakan polonium-210.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi lebih lanjut mengenai asal-usul sampel jaringan yang dianalisis atau laboratorium mana yang melakukan pemeriksaan definitif. Namun, tekanan diplomatik terhadap Kremlin tampaknya akan terus menguat seiring dengan upaya kolektif negara-negara Barat untuk meminta pertanggungjawaban Rusia.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar