AS Desak Warganya Tinggalkan Venezuela, Situasi Keamanan Dinilai Memuncak

- Minggu, 11 Januari 2026 | 15:25 WIB
AS Desak Warganya Tinggalkan Venezuela, Situasi Keamanan Dinilai Memuncak

Peringatan keras datang dari Washington. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat secara resmi mendesak seluruh warganya yang masih berada di Venezuela untuk segera pergi. Ini bukan sekadar imbauan biasa, tapi peringatan keamanan dengan nada mendesak, menyusul situasi yang dinilai makin berbahaya di jalanan Caracas dan kota-kota lain.

“Situasi keamanan di Venezuela masih tidak menentu,”

begitu bunyi pernyataan resmi mereka yang dirilis Sabtu lalu, seperti dilaporkan AFP.

Intinya sederhana: keluar sekarang juga. Peringatan ini muncul di tengah laporan yang beredar tentang aktivitas milisi bersenjata, yang biasa disebut "Colectivos", yang semakin agresif. Mereka disebut-sebut memasang pos-pos pemeriksaan dadakan, menghentikan kendaraan, dan konon mencari-cari warga AS atau siapa saja yang menunjukkan dukungan kepada Amerika.

Nah, peringatan untuk segera hengkang ini juga dikaitkan dengan mulai beroperasinya kembali penerbangan internasional. Artinya, ada kesempatan untuk pergi. Kedutaan Besar AS di Caracas menegaskan, warga negaranya harus memanfaatkan kesempatan itu sebelum situasi bertambah rumit.

Memang, Venezuela sudah lama masuk dalam daftar hitam perjalanan AS dengan status Level 4: "Jangan Bepergian". Alasannya panjang: risiko penahanan sewenang-wenang, kekerasan, bahkan penculikan. Ditambah lagi dengan kerusuhan sipil dan sistem kesehatan yang amburadul. Jadi, peringatan terbaru ini seperti menggarisbawahi bahwa level bahayanya sudah berada di titik puncak.

Latar belakangnya tentu tak lepas dari ketegangan politik yang memanas belakangan. Operasi penangkapan terhadap pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, oleh pasukan AS beberapa waktu lalu jelas memicu gelombang baru. Namun begitu, ada sedikit angin perubahan yang mencoba meredakan tensi.

Menurut Reuters, Presiden Donald Trump disebut-sebut membatalkan rencana serangan lanjutan setelah otoritas Venezuela membebaskan sejumlah tahanan politik. Hingga akhir pekan, sekitar 18 orang telah dilepaskan.

Pembebasan ini bisa dilihat sebagai langkah pertama menuju de-eskalasi, sebuah sinyal yang mungkin ditunggu banyak pihak. Meski begitu, bagi kelompok pegiat HAM, langkah ini masih jauh dari cukup. Mereka mengingatkan, ratusan tahanan politik lainnya masih terkurung di penjara-penjara Venezuela, menunggu keadilan yang belum jelas wujudnya.

Jadi, sementara pemerintah kedua negara mungkin sedang bermain kartu diplomasi, di lapangan, rasa takut dan ketidakpastian masih menjadi menu sehari-hari. Dan bagi warga AS yang tersisa di sana, pesannya jelas: saatnya berkemas.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar