Moskow dikabarkan mengirimkan kapal perang, konon untuk melindungi kepentingan maritimnya. Mereka merasa diintai secara berlebihan.
Kementerian Luar Negeri Rusia dengan lantang menuduh AS dan NATO melakukan pengawasan yang "tidak proporsional" terhadap kapal tanker tersebut. Mereka bersikukuh bahwa kapal itu sedang berlayar di perairan internasional dengan bendera Rusia berkibar, dan seluruh operasinya sesuai aturan hukum laut internasional.
Dengan nada menuntut, Rusia berharap negara-negara Barat bisa konsisten menjunjung tinggi prinsip hukum yang mereka gaungkan sendiri. Persoalannya, dalam politik global yang ruwet, prinsip dan praktik seringkali berada di dua kutub yang berbeda.
Kini, bola ada di pengadilan opini dunia. Satu hal yang pasti: insiden di laut lepas ini menjadi pengingat betapa rapuhnya perdamaian, dan bagaimana sebuah kapal tanker bisa menjadi bidak dalam percaturan kekuatan yang lebih besar.
Artikel Terkait
China Batasi Drama CEO Jatuh Cinta ke Si Miskin, Sebut Sebar Harapan Palsu
Indonesia Khawatir, Langkah Trump Cabut Diri dari 66 Organisasi Internasional Dinilai Ancam Stabilitas Global
Iran Siagakan 400 Unit Tempur, Waspadai Serangan AS-Israel di Tengah Gejolak Dalam Negeri
AS Akhirnya Meringkus Dua Kapal Tanker Armada Bayangan Venezuela