Merespons operasi ini, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, tak ragu menunjukkan sikap kerasnya lewat sebuah postingan media sosial.
“Para penjahat dunia telah diberi peringatan. Kalian bisa lari, tetapi kalian tidak bisa bersembunyi,” tulisnya singkat namun penuh pesan.
Di sisi lain, Gedung Putih berusaha menegaskan bahwa Presiden Donald Trump sama sekali tidak gentar. Langkah ini memang berpotensi memicu ketegangan baru dengan Rusia dan China, tapi tampaknya itu bukan halangan.
“Dia akan menegakkan kebijakan yang terbaik untuk Amerika Serikat, termasuk memberlakukan embargo terhadap semua kapal armada gelap yang secara ilegal mengangkut minyak,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt.
Operasi penyitaan ini rupanya bukan aksi spontan. AS sudah membuntuti Bella 1 sejak kapal itu masih berkeliaran di dekat Venezuela. Untuk menangkapnya, mereka mengerahkan banyak sumber daya: mulai dari pesawat pengintai canggih P-8, kapal penjaga pantai, hingga dukungan militer dari sekutu seperti Inggris. Perburuan itu akhirnya berhasil dituntaskan di Atlantik Utara yang berangin.
Artikel Terkait
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China
Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara
Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital
Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Ultimatum AS ke Iran Berakhir 6 April