Kasus suap yang menjerat Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang kini kian melebar. Ternyata, sosok pemberi suapnya, Sarjan, bukanlah pemain baru. Penyidik KPK menduga kuat praktik serupa sudah berjalan sejak era kepemimpinan bupati sebelumnya.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengiyakan. Menurutnya, pihaknya sudah mengantongi informasi awal bahwa Sarjan ini sudah lama menjadi vendor atau penyedia barang dan jasa untuk Pemkab Bekasi.
"Kami mendapatkan informasi awal bahwa Saudara SJ ini juga sebagai vendor untuk beberapa proyek di periode bupati sebelumnya," kata Budi kepada wartawan, Kamis lalu.
Nah, dari temuan ini, KPK punya pekerjaan rumah baru. Mereka akan menelisik lebih dalam. Apakah modus 'ijon proyek' yang dipakai Sarjan untuk meladeni permintaan Ade Kuswara juga pernah dipraktikkan kepada pejabat lama? Itu yang sedang mereka kejar.
"Apakah modus-modus serupa juga dilakukan, itu yang akan kami dalami," ujar Budi menegaskan.
Upaya pelacakan ini bukannya tanpa dasar. KPK menemukan titik terang setelah menggeledah rumah Sarjan di Kampung Gabus Sangkil, Tambun Utara, Rabu kemarin. Hasilnya? Mereka menyita sejumlah dokumen proyek untuk tahun 2025–2026 plus sebuah flashdisk.
Bukti elektronik itu dianggap krusial. Isinya akan segera dianalisis untuk mengungkap komunikasi dan kesepakatan-kesepakatan terselubung. Apalagi sebelumnya ada indikasi upaya penghapusan riwayat chat di ponsel tersangka. Flashdisk itu mungkin jadi kunci.
Lantas, siapa sih Sarjan ini?
Di kalangan warga Tambun Utara, dia dikenal sebagai tokoh masyarakat sekaligus kontraktor lokal. Tapi jejaknya juga merambah dunia politik. Dia pernah digadang-gadang maju jadi calon wakil bupati di Pilkada 2024, walau akhirnya kandas.
Di dunia maya, pria bergelar sarjana hukum ini aktif di TikTok dengan akun @sarjangabus. Sebelum ditangkap, unggahan terakhirnya adalah foto dirinya dengan backsong lagu "Sedia Aku Sebelum Hujan". Ia juga kerap pamer kegiatan sosial, seperti menyumbang bahan bangunan untuk musala atau mengirim mi instan untuk korban banjir.
Yang menarik, pergaulannya ternyata lumayan tinggi. Beberapa waktu lalu, dia mengundang Wapres Gibran Rakabuming Raka dalam acara mancing di daerahnya. Gibran pun hadir dengan gaya kasual. Tak hanya itu, Sarjan juga pernah bersilaturahmi ke rumah mantan Presiden Jokowi di Solo, seperti terlihat di unggahan TikTok-nya September lalu.
"Silaturahmi ke rumah Pak De, terima kasih Bapak @jokowi, sudah menyempatkan waktunya. Semoga sehat selalu, amin," tulisnya kala itu.
Dianggap Sebagai 'ATM'
Sementara itu, dari sisi penerima suap, gambaran kasusnya semakin jelas. Direktur Penyidikan KPK, Asep Guntur Rahayu, menyebut Ade Kuswara kerap meminta uang dari Sarjan. Bahkan untuk proyek yang masih sebatas rencana di tahun 2026 sekalipun.
"Proyek tahun 2026 dan seterusnya sudah dikomunikasikan... dan tersangka ADK kerap meminta uang, padahal proyeknya sendiri belum ada," jelas Asep.
Praktik memalukan ini diduga sudah berlangsung sejak Ade Kuswara dilantik. Dalam setahun terakhir, dari Desember 2024 hingga Desember 2025, total uang ijon yang diterima Ade Kuswara dan seorang perantara bernama HM Kunang dari Sarjan mencapai Rp9,5 miliar. Ditambah lagi, ada penerimaan dari pihak lain sebesar Rp4,7 miliar sepanjang 2025.
Saat penggerebekan, KPK menyita uang tunai Rp200 juta di rumah sang bupati. Uang itu diduga sisa setoran terakhir dari Sarjan.
Atas perbuatannya, Ade Kuswara dan HM Kunang kini menghadapi tuntutan pasal suap dan gratifikasi. Sarjan, si pemberi, juga dikenai pasal yang sama. KPK menahan ketiganya untuk pertama kalinya selama 20 hari, hingga pertengahan Januari nanti.
Artikel Terkait
KPK Bergerak Serentak: Jakarta dan Banjarmasin Diguncang OTT
Di Balik Penampilan Prima Jokowi, Tradisi Hukum Kuno yang Masih Membayangi
Jaringan Judi Online Berbasis Kamboja Dibongkar dari Kamar Kos Palembang
Desakan Keras: Aparat Hukum Didorong Periksa Jokowi Terkait Dua Kasus Besar