Iran Tuntut Protokol Keamanan IAEA Sebelum Izinkan Inspeksi di Situs yang Masih Ada Bom AS

- Senin, 09 Februari 2026 | 03:20 WIB
Iran Tuntut Protokol Keamanan IAEA Sebelum Izinkan Inspeksi di Situs yang Masih Ada Bom AS

TEHERAN – Fakta mengejutkan diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Dalam pembicaraannya dengan Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), terungkap bahwa masih ada bom Amerika Serikat yang belum meledak di fasilitas nuklir Iran. Bom-bom itu dijatuhkan AS dalam serangan pada 22 Juni 2025 lalu, yang menyasar tiga lokasi: Fordow, Isfahan, dan Natanz.

Pernyataan Araghchi ini disiarkan kantor berita Klub Jurnalis Muda Iran. Intinya sederhana tapi serius: Iran mempertanyakan apakah IAEA punya aturan khusus untuk mengunjungi situs yang masih menyimpan ancaman semacam itu.

“Tidak,” begitu jawaban Grossi, menurut Araghchi.

Karena itulah, diplomat Iran itu lantas mengusulkan satu syarat. Harus ada protokol keamanan yang disepakati dulu sebelum inspeksi apa pun bisa dilakukan. “Mengingat masalah keamanan yang ada, termasuk keberadaan bom yang belum meledak dan hal-hal lain yang perlu disepakati,” tegas Araghchi.

Poinnya jelas. Iran baru akan membuka ketiga fasilitas itu untuk pemeriksaan IAEA jika protokol keamanan itu disahkan. “Iran tetap berhubungan dengan badan tersebut dalam hal ini,” tambahnya, seperti dilaporkan Anadolu.

Namun begitu, nada bicara Araghchi tak cuma soal inspeksi teknis. Ada rasa tak percaya yang mendalam di baliknya. Dia menegaskan, Iran belum bisa memercayai AS sepenuhnya. Padahal, kedua negara saat ini lagi-lagi terlibat dalam putaran perundingan nuklir baru. Hasilnya? Masih sangat belum pasti.

Rasa curiga ini punya sejarah. Serangan AS tahun lalu itu terjadi justru ketika kedua pihak sedang dalam masa perundingan yang dimediasi Oman. Setelah beberapa kali pertemuan, bukannya kesepakatan yang datang, melainkan serangan. Peristiwa itu terjadi di hari kesepuluh gempuran Israel ke Iran.

Akibatnya bisa ditebak. Kepercayaan Iran kepada AS punah. Mereka merasa dikhianati di tengah jalan.

Menurut Araghchi, AS sudah mencoba berbagai cara untuk menekan Iran, tapi gagal. Kini AS kembali ke meja perundingan. Tapi arah pembicaraan masih gelap. “Kami tidak memercayai mereka. Ada kemungkinan mereka akan menipu. Semua lembaga di Iran harus terus menjalankan tugas, terlepas dari perkembangan ini,” ucapnya.

Pernyataan terakhirnya itu terdengar seperti peringatan. Sebuah indikasi bahwa konflik bisa saja terulang kapan saja.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar