Post-traumatic stress disorder atau PTSD, gangguan stres pascatrauma, itulah istilah yang ia gunakan. Denada, digambarkannya, menunjukkan wajah sedih bercampur marah. Seolah ada luka yang begitu dalam dan masih sangat perih untuk diungkit. Enrico pun akhirnya memilih mengurungkan niat bertanya, karena kasihan melihat penderitaan kakaknya.
“Saya juga amat kasihan, dan seperti ada rasa sakit hati luar biasa kalau saya coba mencari tahu,” imbuhnya.
Di sisi lain, Enrico merasa logika perlindungan keluarga justru terbalik. Seharusnya, seorang perempuan yang telah tersakiti sedemikian rupa mendapat dukungan. Bukan dihujat.
Ia menyayangkan komentar-komentar yang justru menyudutkan Denada sebagai seorang ibu. Baginya, dalam situasi seperti ini, empati seharusnya lebih berbicara.
Memang, Denada sendiri telah mengakui Ressa adalah anak kandungnya. Pengakuan itu disampaikan dengan penuh penyesalan, sambil bercerita tentang kondisi psikisnya yang kacau kala itu. Tapi satu hal yang masih ia simpan rapat-rapat: identitas ayah kandung Ressa. Sampai sekarang, itu masih menjadi misteri yang menyisakan tanda tanya besar dan luka yang belum kunjung sembuh.
Artikel Terkait
Kuasa Hukum Nikita Mirzani Yakin Kasasi Bisa Koreksi Kekeliruan Hukum
Boiyen dan Rully Anggi Akbar Tak Lagi Serumah, Sidang Cerai Telah Dimulai
Kuasa Hukum Boiyen Bantah Gugatan Cerai Terkait Kasus Rully
Bio Instagram Berubah, Denada Akui Anak Kandung Usai Dituding Telantarkan