Gibran Santai Tanggapi Kritik dan Candaan Pandji: Saya Ikut Bangga...

- Selasa, 20 Januari 2026 | 11:16 WIB
Gibran Santai Tanggapi Kritik dan Candaan Pandji: Saya Ikut Bangga...

Konten "Tahan Sabar" kali ini kedatangan tamu spesial: Mas Gibran. Suasana langsung cair, meski sempat ada guyonan kecil di awal. "Cok, enggak sopan itu udah datang, malah nonton HP," canda sang host. Rupanya, yang ditonton adalah kontenĀ Mens Rea dari Pandji Pragiwaksono.

"Mas Gibran, gimana kabarnya?" tanya host.

"Baik, baik, baik," jawab Gibran dengan santai. Lalu obrolan pun mengalir ke konten yang sedang viral. "Udah nonton di Netflix ya?" tanya host lagi. Gibran mengiyakan. "Dan kita ucapkan selamat ke Bang Panji," sambungnya. Ternyata, konten stand-up comedy Panji itu menduduki peringkat teratas di Netflix, bahkan mengalahkan judul besar seperti Jujutsu Kaisen dan Stranger Things. "Ikut bangga," ucap Gibran.

Namun begitu, ramai juga pembicaraan soal konten yang dinilai menghina fisik. "Buat lucu-lucuan aja. Enggak apa-apa, santai," tanggap Gibran. Menurutnya, komentar soal penampilannya yang sering disebut "ngantuk" itu hal biasa. "Dari lahir bentuk matanya memang seperti ini. Mau gimana lagi?"

Di sisi lain, host juga menyoroti komentar Gibran di channel YouTube-nya, Gibran TV, yang kerap memberi tips. Salah satunya komentar di video senam mata. "Terima kasih Liputan," sahut Gibran. Lalu muncul candaan tentang pergi ke klinik dokter Tompi untuk "dibikin segar". Gibran hanya tertawa. "Enggak usah lah, disyukuri aja," katanya.

Persoalan lain yang mengemuka adalah soal bullying yang diterima Panji beserta keluarganya. Menurut Gibran, apa yang disampaikan Panji di mainstre seharusnya dipandang sebagai kritik dan masukan. "Enggak usah saling membully, enggak usah saling melaporkan. Jangan membully anak istrinya juga. Mereka salah apa?" tegasnya.

Soal laporan penistaan agama yang ramai, Gibran mengaku tidak tahu menahu. "Yang dari Muhammadiyah NU katanya? Itu sudah diklarifikasi bukan asli," ujarnya. Baginya, acara komedi ya harus dibawa santai. "Orang-orang yang sudah kenal lama sama anak-anak komika, joget-nya dari dulu kan seperti ini."

Lalu, bagaimana tanggapannya soal kritik terhadap pemerintah? "Enggak apa-apa mau kritik pemerintah," kata Gibran. Ditanya soal kelucuan Panji dibanding Roy Suryo, ia menjawab diplomatis. "Beda genre komedi. Roy Suryo lebih ke informatika."

Obrolan kemudian beralih ke kunjungan kerja Gibran ke Papua. "Kami dapat tugas untuk percepatan pembangunan di sana," jelasnya. Ia menyebut sejumlah program yang dipastikan berjalan, seperti MPG, sekolah rakyat, kampung nelayan, dan revitalisasi sekolah. "Semua kita pastikan berjalan."

Lalu, bagaimana dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sering disebut "kota hantu"? Gibran membantah. "Kita baru pulang dari IKN. Progresnya baik, sesuai timeline." Malah, pembangunannya justru dipercepat. Ia mencontohkan ramainya pengunjung saat Nataru karena tol sudah dibuka. "Cuma 50 menit dari Balikpapan," ujarnya.

Sambil ngobrol, mereka memesan makanan. "Ini rumah makan, Mas. Enggak dikasih makan. Sombong dia," canda host. Mereka akhirnya memesan ayam kampung bumbu hitam dan bebek caro. "Sudah ada sertifikat halalnya," kata Gibran sambil meminta bukti di depan kamera.

Pembicaraan kembali ke IKN. Gibran menegaskan, pengiriman mahasiswa dan ASN ke IKN sudah berjalan. "Kalau mangkrak, enggak mangkrak sih." Target penyelesaian untuk gedung yudikatif dan legislatif adalah 2028. "Tahun ini juga kita mengirim ribuan ASN. Kantor saya pun sedang finishing."

Makanan pun tiba. Sambal pedas, tahu crispy, dan ayam kampung bumbu hitam disantap bersama. "Makan pakai tangan lah kalau bebek atau ayam," kata Gibran. Obrolan semakin santai. Host bertanya, apakah kreator yang mengkritik pemerintah harus takut? "Aman kok. Asalkan dalam koridor yang sesuai," jawab Gibran. "Tapi kalau ngritik saya sih enggak apa-apa. Santai."

Pertanyaan terakhir: apakah Gibran pernah marah? "Enggak. Santai semua. Kita tanggapi dengan santai," katanya. Ia mengaku sudah jadi objek candaan sejak 2014. "Musiman," tambahnya sambil tertawa.

Di akhir acara, host memberi kartu member seumur hidup untuk warung bebek tersebut. "Serius nih, Mas?" tanya host. "Seumur hidup," jawab Gibran. "Tapi enggak boleh dibawa pulang, Mas," canda yang lain. "Bolehlah, Wapres kan bisa cabut izinnya," sahut yang lain lagi. Suasana riuh pun terjadi.

Acara ditutup dengan janji untuk bertemu lagi di konten "Tahan Sabar" berikutnya. Obrolan santai ini, meski penuh canda, menyisakan kesan bahwa pembicaraan serius pun bisa dilakukan dengan gaya yang rileks dan manusiawi.

Editor: Murianetwork News

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags