Tak hanya politisi, dunia penegak hukum pun jadi sasaran. Dalam konteks kritik atas integritas institusi, Pandji menyebut nama Ferdy Sambo. Kasus besar itu dijadikannya contoh untuk menyoroti betapa kepercayaan publik bisa begitu mudah tercabik.
Masih terkait Polri, nama Teddy Minahasa juga sempat meluncur. Sindiran ini jelas bagian dari kritik sosial terhadap penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan.
"Nggak semua polisi seperti Irjen Teddy Minahasa," ujarnya, menyisipkan pesan bahwa masih banyak anggota yang baik di tengokannya.
Nah, di balik semua sindiran itu, Pandji punya penjelasan. Baginya, ini bukan urusan pribadi. Stand-up comedy adalah medium untuk membongkar fenomena dan persoalan struktural yang lebih besar di masyarakat.
"Mens Rea itu tidak didesain untuk mengubah para politisi, karena percuma," katanya blak-blakan.
Ia justru percaya, komedi adalah sarana kritik yang efektif. Disampaikan dengan ringan, tapi maknanya bisa nyangkut lebih dalam. Lewat humor, isu-isu berat jadi lebih mudah dicerna publik.
Di tengah sorotan yang tak kunjung reda, Pandji tampaknya tak akan berhenti. Ia malah sedang sibuk menyiapkan pertunjukan baru dengan tema-tema yang relevan dengan kondisi terkini. Konsistensinya inilah yang menegaskan satu hal: kritik melalui komedi akan tetap menjadi jiwa dari kreativitasnya di dunia stand-up Indonesia.
Artikel Terkait
MD Pictures Adaptasi Buku Laris Filosofi Teras ke Film, Dibintangi Sherina Munaf
Tristan Molina Akui Puasa Itu Berat, Olla Ramlan Syukuri Dukungan Pasangan di Ramadhan
Tiffany Young dan Byun Yo Han Resmi Catatkan Pernikahan pada 27 Februari
Marcell Siahaan Rilis Menuju Cahaya, Single Religi dengan Sentuhan Istri dan Nuansa Elektronik