Dari Claudia hingga Cannes: Jejak Panjang Kirsten Dunst di Balik Layar

- Minggu, 11 Januari 2026 | 06:00 WIB
Dari Claudia hingga Cannes: Jejak Panjang Kirsten Dunst di Balik Layar

Menjadi Ikon Remaja dan Lalu Mendunia

Memasuki akhir 90an, namanya lekat dengan film remaja. Ia sukses membawakan nuansa komedi di Drop Dead Gorgeous (1999) dan Bring It On (2000). Namun, puncaknya terjadi tahun 2002.

Saat Sam Raimi memilihnya untuk memerankan Mary Jane Watson di Spider-Man, popularitasnya meledak ke seluruh dunia. Chemistry-nya dengan Tobey Maguire terasa nyata, dan ia pun berhasil membawa pulang MTV Movie Award untuk Best Female Performance. Kesuksesan itu berlanjut di dua sekuel berikutnya.

Di sisi lain, Dunst tak mau terjebak dalam satu genre. Ia membuktikan kedalaman aktingnya di film-film seperti Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) dan Marie Antoinette (2006).

Kedewasaan dan Pengakuan Tertinggi

Menurut sejumlah kritikus, peran terbaiknya justru datang dari film yang cukup berat: Melancholia (2011) arahan Lars von Trier. Dunst memainkan karakter Justine yang tenggelam dalam depresi mendalam, di tengah ancaman kiamat. Aktingnya itu luar biasa, menyentuh, dan akhirnya membawanya meraih penghargaan Aktris Terbaik di Festival Film Cannes. Sebuah pencapaian prestisius yang mengukuhkannya bukan sekadar bintang pop, melainkan aktris serius.

Ia juga jago di layar kaca. Penampilannya di serial Fargo (2015) sungguh memukau, mengantarnya ke nominasi Golden Globe dan Critics Choice Television Award.

Beberapa film lain yang patut dicatat dalam filmografinya antara lain The Virgin Suicides (1999), Hidden Figures (2016), dan serial On Becoming a God in Central Florida (2019).

Hingga kini, Kirsten Dunst tetap menjadi salah satu nama yang dihormati di industri. Perjalanannya dari model cilik, ikon remaja, hingga aktris pemenang Cannes membuktikan satu hal: ia punya ketahanan dan bakat yang langka. Ia bertahan, bukan sekadar terkenal.


Halaman:

Komentar