Dokter Salvador Plasencia Divonis 30 Bulan Penjara Atas Keterlibatan dalam Kematian Matthew Perry

- Jumat, 05 Desember 2025 | 12:40 WIB
Dokter Salvador Plasencia Divonis 30 Bulan Penjara Atas Keterlibatan dalam Kematian Matthew Perry

Vonis 30 Bulan untuk Dokter di Balik Kematian Matthew Perry

Pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman. Dokter Salvador Plasencia, sosok kunci dalam kasus kematian aktor Matthew Perry, harus mendekam di penjara selama 30 bulan. Putusan ini dibacakan hakim Sherilyn Peace Garnett di Pengadilan Distrik AS pada Rabu (3/12) lalu, setelah Plasencia mengaku bersalah.

Dia mengakui telah menjual 20 botol ketamin kepada Perry. Obat bius itulah yang kemudian membuat bintang "Friends" itu kecanduan dan akhirnya mengalami overdosis fatal.

Selain hukuman penjara, Plasencia juga mendapat hukuman tambahan. Dia harus menjalani masa pembebasan bersyarat selama dua tahun dan membayar denda yang tidak kecil: 5.600 dolar AS, atau setara dengan Rp93 juta.

Sebelum vonis ini jatuh, ancaman untuknya jauh lebih berat. Jaksa AS Martin Estrada pernah menyebut bahwa Plasencia bisa menghadapi hukuman lebih dari 100 tahun penjara. Kasusnya terhubung dengan jaringan pengedar narkoba yang cukup terorganisir.

"Plasencia bisa dijatuhi hukuman hingga 120 tahun penjara jika terbukti bersalah, dan Sangha bisa dijatuhi hukuman penjara seumur hidup," tegas Jaksa Estrada dalam pernyataannya.

Jaksa menyoroti kerja sama Plasencia dengan seorang pengedar yang dijuluki 'The Ketamin Queen', Jasveen Sangha. Mereka berdua didakwa menyuplai ketamin kepada Perry.

Namun begitu, Plasencia bukan satu-satunya yang berurusan dengan hukum. Dia hanyalah satu dari lima terdakwa yang telah mengaku bersalah terkait tragedi ini. Keempat lainnya adalah Sangha si 'Ratu Ketamin', dokter lain bernama Mark Chavez, Kenneth Iwamasa yang merupakan asisten pribadi Perry, dan seorang broker bernama Erik Fleming.

Kisah sedih ini berawal dari sebuah pemandangan yang memilukan. Matthew Perry ditemukan tak bernyawa di bak mandi air panas rumahnya di Los Angeles pada 28 Oktober 2023. Hasil pemeriksaan menemukan jejak ketamin dalam tubuhnya. Otoritas kemudian menyimpulkan kematiannya sebagai overdosis yang tidak disengaja.

Ironisnya, sebelum akhir hayatnya, Perry diketahui justru sedang menjalani terapi ketamin untuk mengobati depresi dan kecemasan yang dideritanya. Sebuah fakta yang membuat kasus ini terasa semakin kompleks dan menyisakan banyak pertanyaan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar