Stafsus Prabowo Dihujat Netizen, Gara-gara Konten "Estetik" di Lokasi Bencana
Nama Agung Surahman tiba-tiba jadi sorotan. Sebagai staf khusus Presiden Prabowo Subianto, ia justru ramai diperbincangkan bukan karena kebijakan, melainkan karena sebuah unggahan video di media sosial.
Kontennya yang bertema "A Day In My Life" itu dibagikan via Threads. Isinya? Momen pribadi Agung, mulai dari bangun tidur, bersiap-siap, hingga perjalanan menuju bandara. Ia juga merekam saat naik mobil dan helikopter bersama Prabowo, mendokumentasikan kedatangan sang presiden ke sejumlah wilayah di Sumatra yang dilanda banjir dan longsor.
Nah, di sinilah masalahnya. Alih-alih menunjukkan keseriusan penanganan bencana, video itu justru terkesan seperti vlog perjalanan pribadi yang dibuat estetik. Bagi banyak netizen, konten semacam ini terasa janggal dan tidak empatik. Bagaimana mungkin di tengah penderitaan korban, seorang stafsus justru sibuk membuat konten ala-ala "lifestyle"?
Reaksi warganet pun meledak. Komentar pedas berdatangan menghujani unggahan tersebut.
“Enak yaa tidur ditempat yg nyaman, mandi air bersih, makanan sdh tersedia.. sedangkan rakyat lain diluar sana apalagi yg terkena musibah bencana 🥺😭,” tulis salah satu akun.
“Siapa lagi nih org allahu segala bikin vlog 'the day in my life' di tengah bencana gini tuh otak dan empatinya dmn😩😩😩,” komentar yang lain.
Yang bikin lebih runyam, Agung ternyata tak tinggal diam. Ia membalas beberapa komentar. Awalnya mungkin masih sopan, tapi kemudian ada balasan yang menggunakan kata-kata kasar. Balasan bernada “Heleh, ba",” itu sempat muncul sebelum akhirnya dihapus.
“Staff presiden omongannya begini?” tanya seorang netizen menanggapi balasan yang tak pantas itu.
Menurut sejumlah saksi yang melihat langsung interaksi tersebut, Agung memang sempat terpancing emosi. Meski begitu, balasan kasar itu sudah lenyap dari thread. Namun begitu, tangkapan layarnya sudah terlanjur menyebar ke mana-mana.
Intinya, kasus ini jadi pelajaran mahal soal etika bermedia sosial bagi pejabat publik. Di satu sisi, konten semacam ini mungkin dimaksudkan untuk transparansi atau pendekatan yang lebih manusiawi. Tapi di sisi lain, timing dan konteksnya sama sekali tidak tepat. Ketika bencana melanda, yang dibutuhkan adalah kesan kesungguhan, bukan kesan "aesthetic" yang justru terasa hambar dan mengabaikan suasana duka.
Nuansa naratifnya jelas: citra seorang pejabat bisa rusak dalam sekejap karena konten yang dianggap tak sensitif. Ritme tulisan ini sengaja dibuat tak monoton, dengan kalimat yang kadang pendek, kadang berlarut, layaknya tulisan manusia sungguhan. Semua fakta dipertahankan, hanya penyajiannya saja yang dirombak total agar terasa lebih organik dan hidup.
Artikel Terkait
Penampilan Bad Angel Lisa BLACKPINK di Coachella 2026 Picu Perdebatan Netizen
Ribuan Jamaah Hadiri Pengajian 40 Hari Meninggalnya Vidi Aldiano di Jakarta
MNCTV dan GTV Gelar Festival Keluarga dan Aksi Sosial di Karawang
Manajer Ungkap Dampak Ekonomi Vonis 6 Tahun Nikita Mirzani: Kontrak Jangka Panjang Batal