Ibu satu anak ini sampai kehabisan kata. Ironi di depan mata terasa terlalu menyakitkan. Baginya, tindakan seperti itu sama sekali tidak etis, mengingat situasi di lapangan yang masih mencekam dan kacau balau.
"Sampe ga bs berkata kata aku tuh kok bisa msh sempet pencitraan, gusti,"
tambahnya, menyiratkan keputusasaan.
Fenomena yang disorot Inul ini punya konteksnya. Sebelumnya, publik sempat dihebohkan dengan video Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, yang menangis pilu. Saat itu, ia melaporkan ada kampung yang nyaris "hilang" tersapu air di Aceh Utara dan Bireuen.
Data di lapangan memang suram. Ribuan rumah terendam lumpur, akses jalan nasional lumpuh total. Rakyat sedang benar-benar berjuang. Di sisi lain, sorotan pada sikap dan tindakan para pejabat di lokasi bencana pun kian tajam. Seperti yang dirasakan Inul, ada kesenjangan yang terasa menyakitkan antara penderitaan korban dan aksi-aksi yang terlihat di permukaan.
Artikel Terkait
Mawa Ajukan Dua Syarat Tegas untuk Insanul Fahmi yang Ingin Rujuk
Denny Sumargo Tolak Undangan Roby Tremonti Usai Dengar Kronologi Aurelie
Investor Sate Man Boiyen Tuntut Rully Anggi Akbar: Transfer ke Rekening Pribadi, Janggal!
Kak Seto Berbenah: Refleksi atas Luka Lama di Bawah Sorotan