Minat Gen Z Masih Tinggi, Ini 4 Kriteria Utama Memilih Pesantren Modern
Minat generasi muda, khususnya Gen Z, untuk menempuh pendidikan di pondok pesantren ternyata masih sangat tinggi. Namun, tren terbaru menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam pola masyarakat memilih pesantren untuk anak-anak mereka.
4 Perubahan Pola Pilih Pesantren di Kalangan Gen Z
Hasanuddin Ali, CEO Alvara Research Center, mengungkapkan empat perubahan utama dalam pola pemilihan pesantren saat ini. Perubahan ini terungkap dalam acara Refleksi Hari Santri yang digelar oleh Cakrawala Negarawan Indonesia di Jakarta.
Keempat perubahan tersebut adalah:
- Lokasi strategis dan mudah dijangkau menjadi prioritas utama.
- Fasilitas yang memadai kini semakin diperhatikan.
- Faktor kiai pengasuh pesantren yang dulu menjadi penentu utama, kini posisinya mulai bergeser.
- Rekam jejak pesantren menjadi bahan pertimbangan baru bagi calon santri dan orang tua.
"Ada pergeseran cara pandang masyarakat terhadap pesantren. Sekarang masyarakat lebih melihat fasilitas dan lingkungan, bukan semata pada sosok kiai," papar Hasanuddin.
Fasilitas Pesantren yang Paling Diburu Calon Santri
Hasil riset Alvara menunjukkan tiga fasilitas pesantren yang paling diharapkan masyarakat adalah:
- Unit Kesehatan (UKS)
- Fasilitas mandi-cuci-kakus (MCK)
- Perpustakaan
Selain itu, responden juga menilai fasilitas tambahan seperti akses internet gratis, lapangan olahraga, kantin, dan laboratorium sebagai nilai tambah penting.
"Kini, fasilitas mulai menyaingi peran kiai dalam menarik minat calon santri. Banyak yang menganggap fasilitas pesantren lebih menentukan kenyamanan dan kualitas pembelajaran," katanya.
Kurikulum Modern Jadi Daya Tarik Tambahan
Hasanuddin juga menyebut, pesantren diharapkan mulai mengajarkan berbagai bidang keilmuan modern seperti teknologi digital, ekonomi, manajemen, sains, dan kesehatan.
"Sebanyak 60 persen responden menginginkan agar pesantren memasukkan ilmu komputer dan digitalisasi dalam kurikulum," ujarnya.
Transformasi Pesantren di Era Digital
Tokoh Muhammadiyah, Sunanto menilai pesantren saat ini telah banyak bertransformasi dibandingkan masa lalu. Jika dulu pesantren bersifat tertutup, kini santri hidup di tengah dunia yang semakin terbuka.
"Hal-hal yang dulu dianggap baik belum tentu sesuai dengan konteks sekarang. Santri perlu beradaptasi dengan perubahan zaman," ujarnya.
Menurutnya, tantangan santri di era digital terletak pada kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai pesantren.
"Dulu santri sulit mendapat informasi, sekarang justru banjir informasi. Jangan sampai nilai-nilai pesantren hilang karena kebebasan yang tidak terkendali," ujarnya.
Tips untuk Santri Gen Z dari Alumni Sukses
Konten kreator yang juga alumni santri asal Bone, Sulawesi Selatan, Rinaldi Nur Ibrahim mengungkapkan, santri generasi saat ini harus bisa menguasai semua hal, tidak hanya dalam bidang agama.
"Saya dulu bercita-cita ingin jadi orang berpengaruh. Saya coba wujudkan dan ternyata alhamdulillah berhasil," katanya.
Rinaldi memberikan tips kepada santri Gen Z untuk mewujudkan cita-citanya. "Kuncinya jangan batasi diri kita," ucapnya.
Dengan memahami perubahan pola pikir Gen Z dalam memilih pesantren, diharapkan lembaga pendidikan Islam tradisional ini dapat terus beradaptasi dan relevan dengan tuntutan zaman, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai luhurnya.
Artikel Terkait
Ahmad Dhani Bekali Shafeea Hadapi Hujatan Warganet: Jangan Peduli yang Dungu
Fox Sports Buka Lowongan ‘Chief World Cup Watcher’ dengan Bayaran Rp870 Juta untuk Tonton 104 Pertandingan
Erin Taulany Bantah Aniaya ART, Herawati Laporkan Dugaan Pencekikan hingga Gaji Rp3 Juta Tak Dibayar
Polda Metro Jaya Perpanjang Penahanan Richard Lee 30 Hari, Bantah Isu Penangguhan