"Jadi karena kelamaan enggak dikeluarin, dia numpuk di epididymis, di tampungan testis ya, jadi yang ganggu. Kedua, bisa mengurangi faktor resiko CA prostat itu betul. Dan itu ada paper-nya," katanya menegaskan.
Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dimuat di jurnal Translational Andrology and Urology pada Februari 2026 lalu. Studi itu mengungkap, pria yang tidak ejakulasi lebih dari empat hingga tujuh hari memang punya volume semen lebih banyak. Tapi, kelebihan volume itu sering diiringi penurunan kualitas. Sperma jadi kurang lincah dan lebih rentan rusak.
Di lain pihak, masa pantang yang terlalu pendek kurang dari dua hari justru menghasilkan sperma yang lebih segar dengan kerusakan DNA minimal. Makanya, bagi pasangan yang sedang menjalani program hamil, saran ini kerap diberikan. Sperma berkualitas jelas meningkatkan peluang keberhasilan pembuahan.
Tak cuma soal kesuburan, laporan dari National Library of Medicine juga menyoroti kaitannya dengan kanker prostat. Pria yang rutin ejakulasi dalam frekuensi wajar disebut punya risiko lebih rendah terkena penyakit tersebut. Sebaliknya, yang jarang melakukannya kemungkinannya justru lebih besar.
Jadi, pesan dr. Tirta intinya jelas: moderasi adalah kunci. Memahami hasil penelitian secara bijak itu penting. Ejakulasi rutin itu baik, tapi dilakukan secara normal dan tidak berlebihan. Jangan sampai niat menjaga kesehatan malah berbalik menjadi kebiasaan yang justru merugikan tubuh sendiri.
Artikel Terkait
Batas Akhir Puasa Syawal 2026: 17 atau 18 April Bergantung Penetapan Awal Bulan
Cicilan Rumah Rachel Vennya dan Niko Al Hakim Tembus Rp52 Juta per Bulan
Pakar Sarankan Cara Alami Reset Tubuh Usai Liburan
Ben Kasyafani Pilih Jadi Sahabat untuk Putri Remajanya