Ketegangan AS-Iran Memuncak, Ancaman Serang Infrastruktur Energi
Suasana panas antara Washington dan Teheran makin menjadi. Kali ini, ancaman datang dari Iran yang menyatakan siap melumpuhkan infrastruktur milik Amerika dan sekutunya.
Lewat pernyataan yang beredar Rabu (8/4/2026), juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, tak main-main dengan kata-katanya. Menurutnya, pihaknya akan bertindak agar AS dan kawan-kawannya "kehilangan minyak dan gas di kawasan itu selama bertahun-tahun".
"Kami akan melakukan sesuatu terhadap infrastruktur Amerika Serikat dan sekutunya sehingga mereka akan kehilangan minyak dan gas di kawasan itu selama bertahun-tahun dan terpaksa menarik diri dari kawasan tersebut,"
Pernyataan keras itu disiarkan kantor berita Tasnim. Zolfaghari juga mengklaim bahwa Iran telah melancarkan serangan malam itu, menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Targetnya adalah situs-situs AS dan Israel yang tersebar di Timur Tengah, termasuk lebih dari 30 lokasi di kota-kota Israel bagian tengah.
Semua ini, tentu saja, bukan tanpa sebab. Awal ceritanya bermula pada akhir Februari lalu. Serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 memicu perang ini. Korban jiwa di pihak Iran, seperti dilaporkan, sudah mencapai lebih dari dua ribu orang.
Iran pun tak tinggal diam. Mereka membalas dengan menyerang Israel dan fasilitas AS di negara-negara Teluk. Akibatnya, 13 tentara AS tewas dan ratusan lainnya terluka. Di Israel, korban tewas dilaporkan 26 orang dengan ribuan luka-luka. Korban juga berjatuhan di beberapa negara lain, memperlihatkan betapa konflik ini telah meluas.
Namun begitu, serangan langsung bukan satu-satunya senjata Iran. Mereka punya langkah lain yang berdampak global: menutup Selat Hormuz. Langkah itu langsung bikin harga minyak dunia melonjak. Selat itu adalah jalur vital bagi perdagangan energi.
Di sisi lain, Gedung Putih di bawah Trump berusaha merespons. Meski mengklaim telah menghancurkan kekuatan militer Iran, Trump meminta bantuan sekutu untuk membuka kembali selat itu. Permintaannya ternyata ditolak.
Trump lalu memberi ultimatum. Batas waktu ditetapkan sampai Selasa (7/4) malam waktu AS, atau Rabu dini hari waktu Iran. Tuntutannya jelas: Iran harus setuju gencatan senjata, melepaskan senjata nuklir, dan membuka kembali Selat Hormuz. Jika tidak, ancamannya adalah serangan besar-besaran terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur penting lainnya di Iran.
Sekarang, semua mata tertuju pada langkah berikutnya. Tenggat waktu sudah lewat. Apa yang terjadi selanjutnya? Ketegangan masih menggantung, dan dunia menunggu dengan napas tertahan.
Artikel Terkait
Wanita di Bogor Kehilangan Mobil Usai Jadi Korban Perampokan Teman Kencan
Persib Bandung Hattrick Juara Liga, Eliano Reijnders: Luar Biasa untuk Bobotoh
Pelaku Penembakan di Dekat Gedung Putih Tewas Ditembak Secret Service, Satu Warga Sipil Terluka
Harry Kane Hattrick Bawa Bayern Muenchen Raih Gelar Ganda Usai Taklukkan Stuttgart 3-0 di Final DFB-Pokal