Mentan: B50 Tak Turunkan Ekspor CPO, Malah Naik 6 Juta Ton dan Hemat Devisa Impor

- Rabu, 08 April 2026 | 06:00 WIB
Mentan: B50 Tak Turunkan Ekspor CPO, Malah Naik 6 Juta Ton dan Hemat Devisa Impor

Di Jakarta, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tampak optimis. Ia baru saja keluar dari rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI, Selasa lalu, dan langsung membeberkan kabar baik. Menurutnya, geliat petani sawit nasional sedang meningkat. Pemicunya? Kebijakan pemerintah yang akan mengalihkan sebagian minyak sawit mentah (CPO) untuk program mandatori Biodiesel 50 (B50) mulai Juli 2026 nanti.

"Kita gunakan CPO kita untuk solar biofuel B50," ujar Amran.

Ia menjelaskan, langkah ini membuat Indonesia berpeluang besar untuk berhenti mengimpor solar tahun ini. Caranya dengan memanfaatkan sekitar 5,3 juta ton CPO untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Awalnya, pengalihan ini sempat dikhawatirkan bakal memangkas volume ekspor, dari angka sekitar 26 juta ton menjadi 21 juta ton.

Namun begitu, realitanya justru berbeda. Kondisi geopolitik global yang memanas malah jadi berkah tak terduga. Harga komoditas perkebunan melambung, dan petani kita sigap menangkap peluang. Mereka meningkatkan produksi secara optimal.

Alhasil, ekspor CPO Indonesia bukannya turun, malah melonjak signifikan. Angkanya mencapai sekitar 32 juta ton. Artinya, ada kenaikan sekitar 6 juta ton dibanding sebelum kebijakan biofuel diterapkan.

"Ternyata, setelah kita tidak impor solar dan mengurangi ekspor CPO kita dari 26 juta menjadi 21 juta, petani-petani kita memanfaatkan kondisi geopolitik yang memanas sehingga produksi kita, ekspor kita naik 6 juta ton," papar Mentan lebih lanjut.

Dampak ekonominya pun luar biasa. Sektor pertanian mendapat tambahan devisa sekitar Rp160 triliun. Di sisi lain, Indonesia juga berhasil menghemat devisa untuk impor sekitar Rp41 triliun. Sebuah keuntungan berlapis yang cukup mencengangkan.

Sebagai produsen CPO terbesar dunia yang menguasai 60 persen pasar global, langkah ini dinilai tepat. Dengan mengalihkan 5,3 juta ton untuk biofuel, impor solar bisa dihentikan. Negara diuntungkan dari penghematan, sementara petani menikmati harga jual yang lebih baik. Industri energi dalam negeri pun jadi lebih mandiri.

Menariknya, kenaikan harga itu justru mendorong petani untuk lebih serius merawat kebunnya. Produktivitas meningkat, dan produksi nasional bertambah sekitar 6 juta ton dalam periode tersebut. Jadi, pengalihan CPO untuk kebutuhan domestik sama sekali tidak menggerus kinerja ekspor. Malah sebaliknya.

Pemerintah sendiri menegaskan, prioritas utama tetap pemenuhan kebutuhan dalam negeri baik energi maupun pangan. Baru setelah itu, kelebihan produksi disalurkan untuk ekspor.

Amran menegaskan, B50 ini bukan lagi wacana. Implementasinya sudah berjalan. Dan hasilnya nyata: impor solar berhenti, sementara ekspor dan produksi malah naik secara bersamaan.

Ia juga menanggapi usulan sejumlah pihak yang meminta penundaan. Bagi Mentan, kemandirian energi adalah hal krusial di tenga gejolak geopolitik saat ini. Data berbicara sendiri. Indonesia mampu mencukupi kebutuhan sendiri sekaligus meningkatkan ekspor. Kekhawatiran soal pasokan, menurutnya, kurang berdasar.

"Ekspor kita justru naik menjadi 32 juta ton. Jadi kita memanfaatkan dengan baik, petani kita memanfaatkan dengan baik kondisi geopolitik yang memanas karena harga komoditas perkebunan naik cukup tinggi," tegasnya.

Keberhasalan ini diperkuat angka: kenaikan ekspor 6 juta ton jelas jauh melampaui kebutuhan domestik untuk biofuel yang hanya sekitar 5,3 juta ton. Semua berjalan beriringan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar