Kabar baiknya, layanan pemeriksaan ini umumnya tetap berjalan di rumah sakit besar, termasuk saat libur panjang seperti Lebaran. Jadi, akses untuk pasien yang membutuhkan tetap terbuka.
Lalu, bagaimana dengan pasien yang berpuasa di bulan Ramadhan? Pemeriksaan tetap bisa dilakukan, dengan catatan. Pasien perlu berdiskusi dulu dengan dokter untuk menentukan waktu yang tepat.
“Biasanya, kami sarankan prosedur dilakukan sebelum berbuka atau malam hari setelah makan. Persiapan khusus seperti puasa makan dan minum beberapa jam sebelumnya juga harus diikuti,” katanya.
Setelah penyebabnya ketemu, penanganan GERD akan disesuaikan. Rangkaian terapinya bisa beragam. Mulai dari pemberian obat, perubahan gaya hidup, sampai mengatur pola makan dengan menghindari pemicu. Menjaga berat badan ideal dan mengatur posisi tidur misalnya dengan bantal lebih tinggi juga kerap dianjurkan.
Jangan lupakan faktor stres. Pengelolaannya seringkali jadi kunci penting untuk mencegah kekambuhan.
Pada kondisi tertentu, jika GERD sudah menyebabkan komplikasi atau tak mempan dengan obat, opsi operasi atau prosedur minimal invasif bisa dipertimbangkan. Tujuannya untuk memperkuat katup kerongkongan, agar asam lambung tidak mudah balik arah.
Artikel Terkait
Warga Aceh Tamiang Jaga Imunitas di Ramadhan Pascabencana
Epidemiolog Ingatkan Risiko Ciuman Bayi Saat Lebaran
Kemenkes Genjot Perang Melawan Kusta dengan Fokus Deteksi Dini dan Hapus Stigma
Autumn Durald Arkapaw Jadi Perempuan Pertama Peraih Oscar Sinematografi Terbaik