Dia juga mengamati, hampir semua produk hiburan untuk anak yang beredar berasal dari luar negeri.
Misi serupa diungkapkan sutradara Upie Guava. Dia merasa generasinya dulu tumbuh dengan beruntung, disuguhi cerita-cerita yang memicu imajinasi dan rasa ingin tahu yang besar.
Menurutnya, karya-karya itulah yang mendorong banyak anak punya cita-cita tinggi; ingin jadi arkeolog, wartawan, detektif, atau astronot. Namun begitu, dia melihat kondisi sekarang berbeda. Anak-anak lebih banyak disibukkan oleh layar ponsel mereka sendiri.
Padahal, bagi Upie, mimpi anak-anak itu sangat penting. Itu fondasi bagi masa depan sebuah bangsa.
Lewat "Pelangi di Mars", harapannya sederhana namun mendalam: memberi inspirasi agar anak-anak Indonesia kembali memiliki mimpi besar tentang masa depan mereka. Sebuah film fiksi ilmiah yang rupanya dibangun dari harapan yang sangat nyata.
Artikel Terkait
Pelangi di Mars Rampung Setelah Lima Tahun, Tim Belajar Teknologi XR dari Nol
CAPD, Terapi Gagal Ginjal yang Lebih Fleksibel, Masih Minim Dikenal Pasien
LPDP Sesuaikan Besaran Tunjangan Hidup dengan Biaya Hidup Negara Tujuan
Atta Halilintar Ungkap Derita Eksim yang Membuatnya Takut Sinar Matahari