Perseteruan Netizen Korea dan Asia Tenggara Memanas, Isu Rasisme dan Solidaritas Mengemuka

- Sabtu, 14 Februari 2026 | 03:15 WIB
Perseteruan Netizen Korea dan Asia Tenggara Memanas, Isu Rasisme dan Solidaritas Mengemuka

3. Lahirnya ‘SEAblings’ sebagai Bentuk Perlawanan. Menanggapi hinaan itu, netizen dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, sampai Singapura bersatu. Mereka mempopulerkan istilah ‘SEAblings’ gabungan dari ‘SEA’ (Asia Tenggara) dan ‘siblings’ (saudara). Istilah ini langsung jadi simbol solidaritas. Tagarnya meledak, masuk trending topic di X dengan ribuan cuitan dalam hitungan jam.

4. Debat Melebar ke Isu Budaya. Konflik yang awalnya soal pelanggaran di konser, pelan-pelan berubah jadi debat budaya yang lebih luas. Netizen mulai membongkar soal standar kecantikan yang ketat di Korea Selatan, budaya fandom yang berbeda, hingga membandingkan sikap antarnegara. Intinya, narasinya sudah bergeser total dari kamera DSLR ke sentimen identitas regional.

5. Baskara Mahendra Terseret, Netizen Indonesia Geram. Di tengah keributan, nama Baskara Mahendra tiba-tiba disebut. Beberapa akun Knetz melontarkan komentar merendahkan penampilan sang aktor. Reaksinya bisa ditebak. Netizen Indonesia langsung pasang badan, membela habis-habisan. Tagar dukungan untuk Baskara pun ramai, sementara kecaman pada komentar rasis makin menjadi.

“Sangat disayangkan, konflik fandom malah berujung pada penghinaan personal yang tak ada kaitannya,” tulis seorang warganet.

6. Perang Tagar dan Narasi yang Tak Kunjung Padam. Tagar SEAblings bertahan lama di trending. Perangnya terjadi di mana-mana; masing-masing pihak saling lempar tangkapan layar dan argumen. Meski begitu, ada juga suara yang menyerukan agar konflik ini tidak digeneralisir jadi permusuhan antar bangsa. Mereka bilang, ini soal etika individu, bukan representasi suatu negara.

7. Sorotan pada Etika Digital. Pada akhirnya, kasus ini jadi pengingat yang cukup keras. Betapa sebuah insiden kecil di dunia nyata bisa meledak jadi badai di ruang digital. Percakapan tentang rasisme, etika menonton, dan arti solidaritas kini jadi diskursus yang diperbincangkan banyak orang.

Begitulah. Tujuh poin tadi cuma gambaran singkat dari perseteruan yang hingga kini masih menyisakan panas. Ruang digital memang tak pernah benar-benar sepi.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar