Kenes Lalita: Dari Jahitan Ibu untuk Anak, Hingga Merambah Pasar Digital

- Jumat, 30 Januari 2026 | 17:45 WIB
Kenes Lalita: Dari Jahitan Ibu untuk Anak, Hingga Merambah Pasar Digital

Dari sebuah kecintaan pada dunia fashion dan inspirasi dari sang anak, lahirlah Kenes Lalita. Usaha busana anak asal Jepara ini, yang mulai dirintis pada 2022, fokus memenuhi kebutuhan pakaian sekolah dan acara formal. Effy Retno Indarwati, sang pemilik, punya filosofi sederhana: bikin baju yang nggak cuma cantik, tapi juga nyaman dipakai dan punya cerita.

"Awalnya memang sederhana," ujar Effy.

"Saya cuma ingin membuat pakaian anak yang fungsional dan dibuat dengan proses yang bertanggung jawab. Latar belakang saya sebagai fashion designer yang biasa menjahit untuk kebutuhan sendiri akhirnya melihat peluang itu."

Produk andalannya? Koleksi Gempita Wastra. Koleksi ini jadi bukti nyata bagaimana Kenes Lalita mengolah warisan tradisi. Mereka menghadirkan keindahan motif batik Nusantara dalam balutan desain yang modern dan fresh untuk anak-anak. Materialnya dipilih yang berkualitas, nyaman untuk kulit sensitif, dengan pemilihan warna yang cermat. Bahkan, ada opsi personalisasi agar busana terasa lebih eksklusif. Hasilnya, busana formal yang stylish untuk ke sekolah atau menghadiri acara spesial.

Di sisi lain, pemasaran jadi kunci. Effy menjangkau pelanggan lewat berbagai kanal digital. Mulai dari marketplace seperti Shopee dan Tokopedia, hingga media sosial Instagram, Facebook, dan TikTok. Untuk memudahkan transaksi, dia memanfaatkan layanan perbankan dari BRI, termasuk QRIS dan mesin EDC. Hal ini jelas mempercepat pembayaran dan menambah kenyamanan pelanggan.

Namun begitu, berjalan sendirian di dunia UMKM kerap penuh tantangan. Effy merasa butuh ekosistem yang bisa mendukung pembelajarannya. Di sinilah dia kemudian menemukan LinkUMKM dari BRI.

"Saya kenal LinkUMKM dari Rumah BUMN dan media sosial," ceritanya.

"Yang bikin tertarik, platform ini nggak cuma sekadar wadah, tapi benar-benar jadi ruang belajar. Di tengah tantangan yang makin kompleks, saya butuh ekosistem yang suportif dan relevan."


Halaman:

Komentar