“Saya bebaskan dia untuk berekspresi ketika dia kesal dengan temannya di kelas,” ujarnya.
Bentuk penentangan yang diajarkan pun beragam.
“Misal kamu boleh berteriak kalau next time gambar kamu dicoret lagi, kamu boleh tunjukkan kalau kamu nggak suka ataupun nggak nyaman sama tindakannya itu. Dan bahkan boleh membalas jika memang perlu,” tambahnya.
Alhamdulillah, seiring dengan tumbuhnya keberanian, kepercayaan diri anaknya pun ikut merangkak naik. Sekarang, si kecil bisa menjadi dirinya sendiri tanpa diliputi rasa cemas, karena tahu orang tuanya selalu ada untuk mendukungnya.
Pengalaman lain datang dari Mom Chalinda (35). Ia punya cara yang lebih terstruktur, membagi prosesnya dalam beberapa tahap.
Pertama, membantu anak memahami tujuan yang ingin dicapai dan menyemangatinya untuk meraih tujuan itu. Kedua, memberikan dukungan moral dengan mengapresiasi setiap usaha, serta lebih memilih mengevaluasi bersama saat anak gagal, ketimbang langsung mengoreksi. Ketiga, mendampingi anak mempelajari hal-hal baru, sehingga pengalaman berharganya makin banyak dan rasa percaya dirinya makin kuat.
“Jadi peran kita tidak hanya sebagai orang tua, namun juga partner untuk mendorong kemajuan anak,” tutur Chalinda.
Dari berbagai upaya itu, ia melihat perubahan yang menggembirakan. Anaknya jadi tidak takut gagal, lebih fokus pada tujuan, tidak gampang tersinggung saat dikritik, dan justru menjadikan pujian sebagai motivasi untuk jadi lebih baik lagi.
Bagaimana dengan pengalaman Anda? Membangun kepercayaan diri anak memang perjalanan yang unik untuk setiap keluarga.
Artikel Terkait
Kapan Waktu Tepat Ganti Bra Saat Hamil? Ini Tanda-Tandanya
Mengapa Hujan Selalu Mengundang Kantuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Mimpi Naik Truk: Benarkah Isyarat Beban Hidup yang Harus Diangkut?
Hati-Hati! 5 Buah Ini Justru Cepat Busuk Jika Disimpan di Kulkas