“Efek dari hormon kontrasepsi ini memang menekan terjadinya menstruasi,” jelas dr. Dinda.
“Alhasil, haid bisa terlambat atau bahkan nggak datang sama sekali.”
Jangan Buru-buru Ambil Kesimpulan Sendiri
Meski wajar merasa khawatir, dr. Dinda menekankan pentingnya untuk tidak melakukan self-diagnosis atau menduga-duga sendiri. Panik malah bisa bikin stres, yang ujung-ujungnya memperparah keadaan.
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah mencoba lebih peka dan mencatat siklus menstruasi selama dua hingga tiga bulan berturut-turut. Amati polanya.
Kalau setelah itu siklus masih saja tidak menentu, atau malah makin kacau, baru saatnya kamu mencari pertolongan medis. Datanglah ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Dengan begitu, akar masalahnya bisa ketahuan. Penanganannya pun jadi lebih tepat, dan kamu nggak perlu lagi dibayangi kekhawatiran yang berlebihan.
Artikel Terkait
Apivita Luncurkan Beevine Elixir, Formula Lebah untuk Reboot Kolagen Kulit
Konselor Laktasi: Kunci Keberhasilan ASI Eksklusif di Tengah Tantangan
Momen Liburan yang Berkilau: Simpan Kenangan dengan Perhiasan Bermakna
BPOM Tarik Susu Formula Nestlé Meski Uji Sampel Dinyatakan Negatif