Di Balik Gemerlap Dunia, Natal Sunyi di Negara-Negara Ini

- Rabu, 10 Desember 2025 | 21:15 WIB
Di Balik Gemerlap Dunia, Natal Sunyi di Negara-Negara Ini

Natal Tak Berdentang di Setiap Negara

Ketika sebagian besar dunia sibuk menghias pohon dan bertukar hadiah, ada beberapa tempat di mana tanggal 25 Desember berlalu begitu saja. Tak ada lampu gemerlap, tak ada nyanyian pujian. Alasannya beragam, mulai dari keyakinan agama hingga kebijakan pemerintah yang sangat ketat.

Inilah beberapa negara di mana perayaan Natal hampir tak terdengar gaungnya.

Afganistan adalah yang pertama. Mayoritas penduduknya Muslim, jadi Natal bukan hari libur. Bagi komunitas non-Muslim di sana, merayakannya secara terbuka punya risiko sendiri. Kekhawatiran akan gesekan atau serangan bernuansa agama membuat perayaan, jika ada, dilakukan dengan sangat tertutup.

Lalu ada Arab Saudi. Di sini, ekspatriat Kristen memang bisa merayakan Natal, tapi hanya di balik pintu tertutup. Jangan harap melihat gereja atau misa publik. Semua ibadah dan perayaan harus dilakukan secara privat, jauh dari sorotan ruang umum.

Di Tajikistan, aturannya jelas dan tegas. Pemerintah melarang keras atribut Natal seperti pohon terang atau tukar kado, khususnya di sekolah dan kampus. Intinya, mereka ingin tradisi ini tak tampak di ranah publik.

Hal serupa terjadi di Somalia. Negara ini secara resmi melarang perayaan Natal karena dianggap bertentangan dengan ajaran Islam yang dianut hampir seluruh warganya. Jadi, jangan cari suasana Natal di Mogadishu; Anda tak akan menemukannya.

Libya juga punya pendirian kuat. Natal bukan hari libur, dan penjualan ornamen atau hadiah terkait Natal itu dilarang. Aturan ini tetap berlaku meski ada minoritas Kristen yang kecil jumlahnya.

Kemudian Yaman. Dengan populasi Muslim lebih dari 99%, budaya Natal nyaris tak punya tempat di sini. Kehidupan sehari-hari di negara ini sangat kental dengan tradisi Islam, sehingga perayaan Natal hampir tak terlihat sama sekali.

Yang paling ekstrem mungkin Korea Utara. Di bawah rezim Kim Jong Un, memiliki agama saja sudah berbahaya, apalagi merayakan hari raya Kristen.

Menurut Timothy Cho, seorang pembelot Korea Utara, risiko merayakan Natal di sana sangat mengerikan.

“Rezim Kim akan memerintahkan rakyatnya menunjukkan loyalitas penuh kepada keluarga Kim. Jika seseorang ditangkap setelah merayakan Natal secara diam-diam, mereka pasti akan langsung dibunuh,” ujarnya.

Jadi, sementara dunia merayakan, tanggal 24 Desember di Korea Utara justru dimanfaatkan untuk memperingati hari lahir Kim Jong Suk nenek dari pemimpin mereka. Sungguh sebuah kontras yang tajam.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar