Afghanistan Tuduh Pakistan Serang Rumah Sakit, 400 Orang Tewas

- Selasa, 17 Maret 2026 | 08:45 WIB
Afghanistan Tuduh Pakistan Serang Rumah Sakit, 400 Orang Tewas

KABUL Sebuah serangan udara yang menghantam sebuah rumah sakit di ibu kota Afghanistan pada Senin malam lalu, 16 Maret 2026, memicu kemarahan dan tuduhan pedas. Pemerintah di Kabul dengan tegas menuding Pakistan berada di balik serangan itu, yang mereka klaim menewaskan sekitar 400 orang. Korban sebagian besar disebut-sebut merupakan pasien di fasilitas rehabilitasi pengguna narkoba tersebut.

“Jumlah korban tewas ‘sejauh ini’ telah mencapai 400 orang, sementara sekitar 250 orang dilaporkan terluka,” ujar Wakil Juru Bicara Pemerintah, Hamdullah Fitrat, melalui sebuah unggahan di platform X.

Dia menyebut serangan terjadi sekitar pukul sembilan malam waktu setempat. Gedung berkapasitas dua ribu tempat tidur itu dilaporkan hancur sebagian besar.

Rekaman yang beredar dari stasiun televisi lokal memperlihatkan situasi mencekam di lokasi. Cahaya senter dari pasukan keamanan menyapu reruntuhan saat mereka berusaha mengevakuasi korban. Di latar, nyala api masih berkobar, dilawan oleh petugas pemadam yang tampak kewalahan. Tim penyelamat, kata Fitrat, masih berjuang mengendalikan kobaran api dan mengangkat jenazah dari puing-puing.

Serangan malam itu bukanlah insiden yang terisolasi. Ia seperti puncak gunung es dari ketegangan yang sudah memanas selama tiga pekan terakhir. Sejak akhir Februari, bentrokan lintas perbatasan dan serangan udara saling mewarnai konflik antara kedua negara tetangga ini. Beberapa jam sebelum rumah sakit itu disasar, kedua pihak bahkan masih saling baku tembak di perbatasan, yang menewaskan empat orang di sisi Afghanistan.

Juru Bicara pemerintah lainnya, Zabihullah Mujahid, tak kalah keras. Dia secara terbuka mengutuk serangan di X, menuduh Pakistan dengan sengaja "menargetkan rumah sakit dan lokasi sipil untuk melakukan kekejaman."

"Kami mengutuk keras kejahatan ini dan menganggap tindakan tersebut bertentangan dengan semua prinsip yang diterima dan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan," tulisnya tegas.

Bantahan Keras dari Islamabad

Namun begitu, narasi dari Islamabad sama sekali berbeda. Pakistan membantah tuduhan menyerang rumah sakit itu. Mereka bersikeras bahwa operasi militer mereka, yang juga menyasar wilayah Afghanistan timur, hanya mengenai target militer murni.

Juru Bicara Perdana Menteri Shehbaz Sharif, Mosharraf Zaidi, menyebut tuduhan Kabul itu tidak berdasar. “Tidak ada rumah sakit yang menjadi sasaran di Kabul,” tegasnya.

Kementerian Informasi Pakistan lebih dulu merilis pernyataan serupa. Mereka menyebut serangan udara tersebut "secara tepat menargetkan instalasi militer dan infrastruktur pendukung teroris," termasuk gudang persenjataan dan peralatan teknis milik Taliban Afghanistan serta militan Pakistan yang berbasis di sana. Semua fasilitas itu, klaim mereka, digunakan untuk melancarkan serangan ke warga sipil Pakistan yang tidak bersalah.

Penargetan dinyatakan dilakukan dengan hati-hati untuk meminimalisir kerusakan tambahan. Mereka mencap klaim Mujahid sebagai "palsu dan menyesatkan," hanya ditujukan untuk membangkitkan sentimen dan menutupi dukungan Kabul terhadap aksi teror lintas batas.

Desakan dari PBB dan Akar Konflik

Menariknya, serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi. Mereka menyerukan penguasa Taliban di Afghanistan untuk lebih gencar memerangi terorisme. Resolusi yang diadopsi bulat itu memang tak menyebut Pakistan, tetapi mengutuk keras segala bentuk aktivitas teroris.

Ini menyentuh akar persoalan. Pakistan selama ini menuduh Kabul memberikan perlindungan bagi kelompok militan, terutama Taliban Pakistan, yang mereka anggap kerap melakukan serangan di wilayah Pakistan. Kabul tentu saja membantah semua tuduhan ini.

Konflik terkini ini disebut-sebut sebagai yang terparah dalam beberapa tahun. Semua berawal dari serangan udara Pakistan akhir Februari lalu yang diklaim Kabul menewaskan warga sipil. Afghanistan membalas dengan serangan lintas batas, dan gencatan senjata yang pernah ditengahi Qatar pun buyar.

Suasana kini betul-betul memanas. Pakistan bahkan menyatakan diri dalam "perang terbuka" dengan Afghanistan. Pernyataan-pernyataan dari kedua pihak saling bersilangan. Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar, misalnya, mengklaim telah menewaskan 684 pasukan Taliban. Klaim yang langsung ditepis Kabul dengan menyebut angka korban jauh lebih rendah, sambil membalas bahwa mereka telah menewaskan lebih dari seratus tentara Pakistan.

Presiden Pakistan Asif Ali Zardari juga bersuara. Dia menuding Taliban Afghanistan telah melanggar "garis merah" dengan menggunakan drone yang melukai warga sipil di Pakistan pekan lalu.

Di tengah situasi yang makin ruwet ini, Wakil Perdana Menteri Afghanistan Abdul Salam Hanafi berpidato. Dalam sebuah pertemuan dengan analis dan media, dia menegaskan bahwa mempertahankan kedaulatan adalah tugas seluruh warga negara. Hanafi menyatakan penyesalan mendalam atas korban sipil, sambil bersikukuh bahwa perang ini dipaksakan kepada Afghanistan.

Sementara komunitas internasional menatap was-was, seruan gencatan senjata sejauh ini seperti tak didengar. Kekhawatiran besar muncul karena wilayah ini masih menjadi sarang bagi berbagai kelompok militan lain. Ketegangan antara Kabul dan Islamabad, sayangnya, belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar