Di tengah genangan air dan lumpur yang belum surut, sejumlah titik di Aceh Tamiang dan Kota Langsa justru dihiasi warna putih. Bukan kain untuk membersihkan, melainkan bendera putih yang dikibarkan warga. Pemandangan itu muncul di jembatan dan pinggir jalan, sebuah simbol protes yang terasa getir.
Bagi mereka, kain putih itu adalah bahasa keputusasaan. Sudah terlalu lama berhadapan dengan banjir bandang dan longsor yang datang berulang. Rumah rusak, aktivitas lumpuh, ekonomi pun ambrol. Mereka merasa sendirian. Pengibaran bendera, dalam pemahaman mereka, adalah bentuk "penyerahan diri" karena merasa tak berdaya menghadapi bencana yang penanganannya dinilai belum optimal.
Menurut sejumlah saksi, aksi ini dilakukan secara kolektif. Tujuannya jelas: menarik perhatian pemerintah pusat. Jeritan mereka butuh didengar, butuh tindakan nyata yang lebih serius.
Lantas, bagaimana respons pemerintah?
Artikel Terkait
BNPB Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca hingga 2026, Armada Ditambah
Kongres Absen, Pemerintah AS Tutup Lagi
Jetty Indramayu: Gerbang Rahasia yang Menyalurkan Energi ke Jantung Jawa
Ammar Zoni Protes Penempatan di Nusakambangan: Saya Bukan Penjahat Besar