Di tengah genangan air dan lumpur yang belum surut, sejumlah titik di Aceh Tamiang dan Kota Langsa justru dihiasi warna putih. Bukan kain untuk membersihkan, melainkan bendera putih yang dikibarkan warga. Pemandangan itu muncul di jembatan dan pinggir jalan, sebuah simbol protes yang terasa getir.
Bagi mereka, kain putih itu adalah bahasa keputusasaan. Sudah terlalu lama berhadapan dengan banjir bandang dan longsor yang datang berulang. Rumah rusak, aktivitas lumpuh, ekonomi pun ambrol. Mereka merasa sendirian. Pengibaran bendera, dalam pemahaman mereka, adalah bentuk "penyerahan diri" karena merasa tak berdaya menghadapi bencana yang penanganannya dinilai belum optimal.
Menurut sejumlah saksi, aksi ini dilakukan secara kolektif. Tujuannya jelas: menarik perhatian pemerintah pusat. Jeritan mereka butuh didengar, butuh tindakan nyata yang lebih serius.
Lantas, bagaimana respons pemerintah?
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengaku belum mengetahui informasi tersebut. Saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (17/12/2025), ia memberikan pernyataan singkat.
"Saya belum tahu, saya cek dulu," kata Tito.
Namun begitu, pernyataan itu setidaknya membuka ruang. Warga menunggu, setelah bendera putih dikibarkan, apakah benar-benar akan ada pemeriksaan dan tindak lanjut yang konkret. Atau hanya akan menjadi berita lalu, seperti air banjir yang perlahan surut dan dilupakan.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun