Menjelang peringatan Hari Migran Internasional, suasana di Gedung KP2MI Jakarta Selatan kemarin (17/12) terasa hangat dan berbeda. Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia menggelar acara peduli khusus untuk anak-anak yang orang tuanya bekerja jauh di luar negeri. Santunan diberikan, tapi yang lebih menarik adalah riuh rendah anak-anak mengikuti lomba baca puisi dan sesi dongeng.
Menteri P2MI, Mukhtarudin, hadir langsung di tengah keramaian itu. Dalam sambutannya, ia menekankan satu hal: perhatian negara tak boleh berhenti di penempatan kerja. Banyak anak-anak ini tumbuh jauh dari sosok ibu atau bapak. Karena itu, menurutnya, negara harus hadir memberi pendampingan.
“KP2MI dan saya sebagai menteri akan memposisikan kami sebagai bapak dari anak-anak pekerja migran,” ujarnya.
“Mereka butuh perhatian, butuh pendampingan, butuh kasih sayang. Jadi, hari ini merupakan bentuk kepedulian kita.”
Acara bertajuk 'Satu Cahaya, Ribuan Kisah' itu memang dirancang untuk menyentuh sisi emosional. Selain santunan, ada juga kegiatan donor darah yang diikuti pegawai dan warga sekitar. Tapi panggung utama jelas milik anak-anak. Lewat puisi dan dongeng, mereka mendapat ruang untuk berekspresi, sekaligus motivasi.
Mukhtarudin melanjutkan, pendampingan seperti ini penting untuk memenuhi kebutuhan emosional anak-anak yang ditinggal.
“Kita memberikan motivasi, edukasi, serta perhatian kepada anak-anak pekerja migran Indonesia yang orang tuanya berangkat ke luar negeri berjuang untuk keluarganya,” sambungnya.
Ia pun menegaskan komitmen yang lebih luas. Peran kementeriannya, katanya, tidak berhenti saat pekerja sudah ditempatkan. Pemberdayaan keluarga, termasuk anak-anak, adalah bagian dari tanggung jawab yang berkelanjutan.
“Pembinaan kita tidak berhenti hanya menempatkan saja. Namun negara tetap hadir untuk melakukan pemberdayaan,” tegas Mukhtarudin.
Langkah ini disebutnya sejalan dengan amanat konstitusi dan visi Presiden Prabowo. Pesan dari presiden, tuturnya, sangat jelas: tingkatkan kualitas perlindungan bagi pekerja migran dan keluarganya.
“Presiden Prabowo sudah sangat tegas memberikan pesan kepada kami,” tuturnya.
Di sisi lain, kehadiran tokoh perlindungan anak Kak Seto (Seto Mulyadi) menambah bobot acara. Dengan gaya khasnya yang ramah, ia menyampaikan pesan penting tentang hak anak untuk hidup layak.
“Untuk ibu, bapak, sekalian para pahlawan keluarga mohon Putra Putrinya diasuh dengan penuh kasih sayang,” ucap Kak Seto.
“Jangan ada lagi kekerasan, jangan ada lagi penelantaran. Karena anak-anak berhak atas hidup yang layak, berhak atas masa depan yang bagus.”
Ia juga menyempatkan diri menyemangati anak-anak yang hadir. Pesannya sederhana: tetap gembira, berpikir positif, dan kejar cita-cita dengan segala usaha.
“Pokoknya adik-adik harus bisa mencapai cita-citanya jadi apapun juga,” pungkasnya.
Acara itu sendiri dihadiri oleh beragam pihak. Tampak perwakilan dari BP3MI berbagai daerah, KPAI, hingga organisasi seperti UNICEF dan Save the Children. Tak ketinggalan, perwakilan asosiasi perusahaan, Dharma Wanita Persatuan kementerian, serta tentu saja, para pendamping, orang tua, dan anak-anak pekerja migran itu sendiri. Mereka berkumpul, setidaknya untuk sehari, merajut perhatian yang sering kali terpisah oleh jarak dan waktu.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi