Di Balik Warung Kopi Pangku: Ketika Perempuan Terjebak di Ruang Antara

- Selasa, 25 November 2025 | 23:06 WIB
Di Balik Warung Kopi Pangku: Ketika Perempuan Terjebak di Ruang Antara
Melihat Kembali Realita Perempuan Marjinal

Lampu-lampu kendaraan besar melaju cepat, menyisakan siluet seorang perempuan hamil yang berjalan sendirian di jalur Pantura. Malam itu, Sartika tokoh dalam film "Pangku" (2025) berjalan bukan karena ia ingin, melainkan karena hidup mendesaknya untuk terus bergerak. Dunia di sekelilingnya seperti tak peduli apakah ia sanggup mengejar atau tidak. Nafasnya berat, langkahnya pelan. Tatapannya kosong, seolah memikirkan hal yang jauh lebih dalam dari sekadar kata-kata yang sempat ia ucapkan di layar. Pada momen itu, ia bukan sekadar karakter. Ia mewakili jutaan perempuan yang terjebak di ruang antara: bukan miskin secara statistik, tapi tak pernah cukup aman untuk benar-benar hidup.

Fenomena "kopi pangku" yang diangkat film ini sebenarnya lebih dari sekadar catatan sosial yang eksotis. Ini adalah buah dari sistem ekonomi yang gagal membangun tangga bagi mereka yang paling membutuhkan. Sektor informal di Indonesia, mau tak mau, menjadi penampung bagi perempuan-perempuan yang tak punya akses ke pendidikan tinggi, modal usaha, atau jaringan profesional. Sebuah penelitian sosiologis tahun 2020 bahkan menyoroti bagaimana tubuh perempuan di ruang-ruang seperti ini perlahan berubah menjadi semacam bahasa transaksi. Bukan lagi tentang identitas atau aspirasi, melainkan alat tukar belaka.

Menurut data Badan Pusat Statistik 2023, sekitar 59% pekerja perempuan ada di sektor informal. Angka itu mungkin terasa dingin dan abstrak sampai kita meletakkan wajah Sartika di baliknya. Ia bekerja, tapi tak tercatat dalam regulasi ketenagakerjaan. Ia berkontribusi pada perputaran uang, tapi dianggap tak layak dapat jaminan sosial. Ia ada di mana-mana: di pasar, di pinggir jalan, di warung tapi nyaris tak diakui oleh negara.

Di sisi lain, sejarah kita justru dipenuhi nama-nama perempuan yang dielu-elukan. Sebut saja Cut Nyak Dien. Namanya menghiasi buku pelajaran, jalan raya, hingga patung. Tapi perayaan semacam itu rasanya lebih seperti penghormatan pada legenda, bukan pada warisan strategi perjuangannya. Cut Nyak Dien dulu memimpin dengan jaringan, strategi, dan negosiasi. Sekarang? Perempuan seperti Sartika cuma dapat slogan motivasi. Diberi teladan, tapi tanpa metode.

Memang, pemerintah punya segudang inisiatif untuk perempuan. Ada program kredit mikro, pendampingan usaha, pelatihan kewirausahaan, dan bantuan sosial. Beberapa penelitian kebijakan mencatat bahwa ada perempuan yang berhasil keluar dari kemiskinan lewat akses permodalan komunitas. Tapi banyak juga evaluasi yang menunjukkan pola yang sama berulang: program cuma mentok di permukaan. Pelatihan diberikan, foto-foto diambil, laporan disusun lalu para perempuan itu kembali sendiri menghadapi pasar yang tak sabar, persaingan brutal, dan birokrasi yang berbelit.

Model pemberdayaan semacam ini ibarat rumah yang punya fondasi, tapi tanpa dinding. Kelihatannya seperti struktur, tapi tak bisa dihuni. Perempuan diberi arahan, tapi tanpa perlindungan. Dapat pelatihan, tapi tanpa jaminan pasar. Diberi modal awal, lalu dilepas begitu saja saat masalah datang. Akhirnya, banyak yang balik lagi ke jalur lama: jadi pekerja warung kopi pangku, buruh rumahan tanpa jaminan, atau malah pekerja migran di sektor berisiko tinggi.

Kita bisa belajar dari negara lain. Thailand, misalnya. Upaya penertiban moral atas industri yang melibatkan tubuh perempuan tak pernah membuahkan transformasi berarti kecuali ketika ada ekosistem pendukung yang solid. Filipina juga pernah mencoba pendekatan serupa, menggabungkan regulasi moral dan legalisasi sebagian praktik. Tapi perubahan yang paling nyata justru muncul ketika akses pendidikan, kredit komunitas, perlindungan hukum, dan pendampingan usaha dilakukan sebagai satu sistem utuh bukan sekadar proyek temporer.

Persoalan perempuan marjinal memang tak pernah sederhana. Ini adalah simpul kompleks dari ekonomi, norma sosial, birokrasi, pasar tenaga kerja, dan struktur keluarga. Di satu sisi kita bilang perempuan harus maju, tapi di sisi lain kita membatasi langkah mereka. Kita minta mereka mandiri, tapi membiarkan mereka mencari jalan di tanah retak tanpa kompas. Kita ingin mereka bangkit, tapi yang kita beri cuma poster motivasi bukan struktur yang bisa dipanjat.

Kalau perempuan seperti Sartika benar-benar ingin keluar dari ruang liminal ini, yang dibutuhkan bukan instruksi. Tapi infrastruktur. Bukan cuma hibah, melainkan sistem yang memberi kesempatan kedua bahkan ketiga. Sistem yang menyediakan ruang aman untuk jatuh tanpa distigma permanen. Sistem yang bekerja bukan atas dasar belas kasihan, tapi prinsip keadilan.

Pemberdayaan sejati bukan tentang menyuruh seseorang berdiri. Ia tentang menciptakan dunia di mana berdiri menjadi mungkin. Di akhir film "Pangku", wajah Sartika kembali jadi fokus. Masih dengan diam yang sama. Tapi diamnya bukan pasrah ia memendam pertanyaan: Apa aku yang memilih nasib ini, atau sistem yang memaksaku begini?

Andai suatu hari warung kopi pangku hilang bukan karena perempuan-perempuannya menghilang, melainkan karena sistemnya berubah. Kehidupan perempuan marjinal hari ini memang seperti fraktal: terlihat acak, retak, tak beraturan. Tapi fraktal selalu punya pola tersembunyi. Pola itu bukan datang dari nasib, melainkan dari struktur. Dan berbeda dengan nasib, struktur selalu bisa diubah.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar