Laporan Kinerja Metland (MTLA) Hingga Kuartal Ketiga 2025
PT Metropolitan Land Tbk, yang dikenal dengan kode saham MTLA, melaporkan perkembangan kinerja keuangannya untuk periode sembilan bulan pertama tahun 2025. Perusahaan properti yang berfokus pada pengembangan kawasan timur Jakarta ini mengalami penurunan dalam beberapa indikator utama.
Rincian Pendapatan dan Laba Bersih Metland
Hingga tanggal 30 September 2025, Metland mencatat pendapatan usaha sebesar Rp1,13 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 13,4 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024, yang saat itu pendapatannya mencapai Rp1,30 triliun. Di sisi laba bersih, perusahaan juga mengalami tekanan dengan terkoreksi 26 persen, sehingga posisinya menjadi Rp232 miliar.
Sumber Pendapatan dan Proyek Andalan
Pendapatan Metland secara garis besar bersumber dari dua segmen utama. Penjualan properti residensial memberikan kontribusi sebesar Rp722 miliar, sementara pendapatan berulang atau recurring income menyumbang Rp409 miliar. Dua proyek yang menjadi tulang punggung kinerja penjualan adalah Metland Cibitung dan Metland Menteng.
Target Prapenjualan dan Optimisme Manajemen
Sepanjang periode Januari hingga September 2025, perusahaan berhasil merealisasikan prapenjualan atau marketing sales senilai Rp1,34 triliun. Pencapaian ini setara dengan 67 persen dari target tahunan yang ditetapkan sebesar Rp2 triliun. Kontribusi terbesar terhadap angka prapenjualan ini datang dari proyek perumahan tapak di kawasan Metland Transyogi, Metland Cikarang, dan kembali, Metland Cibitung.
Presiden Direktur Metland, Anhar Sudrajat, menyampaikan optimisme bahwa laba perusahaan hingga akhir tahun 2025 akan dapat terjaga dengan baik. Keyakinan ini sejalan dengan perkembangan kondisi perekonomian yang mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Komposisi Pendapatan dan Aset Perusahaan
Menurut penjelasan Direktur Keuangan Metland, Olivia Surodjo, komposisi pendapatan hingga kuartal ketiga 2025 terbagi menjadi 64 persen dari penjualan residensial. Sementara itu, 36 persen sisanya bersumber dari pusat perbelanjaan, operasional hotel, pusat rekreasi, serta berbagai pendapatan lainnya. Metropolitan Mall Bekasi disebut sebagai penyokong utama pendapatan berulang, didukung oleh peningkatan performa dari Hotel Horison Ultima Seminyak dan Metland Venya Ubud.
Dari perspektif neraca keuangan, total aset Metland mengalami peningkatan 4 persen menjadi Rp7,7 triliun. Di sisi liabilitas, tercatat kenaikan 5,82 persen menjadi Rp1,9 triliun, sedangkan ekuitas emiten tumbuh 3,19 persen menjadi Rp5,7 triliun, yang menunjukkan fundamental keuangan yang tetap stabil.
Artikel Terkait
S&P DJI Lanjutkan Rebalancing Indeks di Indonesia, Pantau Perkembangan Regulasi BEI
S&P Dow Jones Tetap Lanjutkan Rebalancing Indeks di Indonesia Meski Kompetitor Tunda
S&P Tetap Lanjutkan Rebalance Indeks Indonesia di Tengah Keraguan Pesaing
S&P DJI Tegaskan Rebalance Indeks Indonesia Tetap Berjalan Maret 2026