Modus Under-Invoicing Ekspor Sawit Terungkap
Modus lama ini kembali terungkap setelah DJP menemukan indikasi kuat praktik under-invoicing, yaitu pelaporan nilai ekspor yang tidak sesuai dengan barang yang sebenarnya. Hal ini menyebabkan potensi kerugian negara yang signifikan.
Potensi Kerugian Negara Capai Rp 140 Miliar
Direktur Jenderal Pajak, Bimo Wijayanto, mengungkapkan hasil analisis pada tahun 2025. Terdapat 257 eksportir sawit yang diduga menjalankan modus fatty matter dengan nilai transaksi mencapai Rp 2,08 triliun. Potensi kerugian negara dari manipulasi ini ditaksir sekitar Rp 140 miliar.
Bimo menegaskan, "Jadi bea masuknya itu bisa 10 kali lipat lah yang katakanlah diduga di under-invoicing," ujarnya di Tanjung Priok.
Mengubah Kode HS untuk Hindari Pajak
Cara kerja eksportir nakal ini adalah dengan mengubah kode HS (Harmonized System) barang ekspor. Produk CPO yang bernilai tinggi sengaja dilaporkan sebagai POME atau fatty matter yang memiliki kewajiban pajak lebih rendah. Pada tahun 2025 saja, terdeteksi 25 wajib pajak yang menggunakan modus POME yang sama.
Bukan Kasus Tunggal, 282 Wajib Pajak Akan Diperiksa
Bimo menyebutkan bahwa temuan ini bukanlah kasus tunggal. Catatan DJP menunjukkan bahwa sejak 2021 hingga 2024, terdapat 282 wajib pajak yang menggunakan pola manipulasi serupa. Total nilai Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang dilaporkan mencapai Rp 45,9 triliun. Seluruh kasus ini kini sedang diproses oleh Tim Penegakan Hukum DJP.
Sebagai langkah lanjutan, DJP akan menelusuri dan memeriksa seluruh eksportir yang terlibat. "Jadi rencana kami, kami sudah laporkan kepada Bapak Menteri Keuangan, setelah ini 282 wajib pajak yang melakukan ekspor serupa itu akan kami periksa, akan kami bukper dan akan kami sidik sesuai dengan kecukupan bukti awal," pungkas Bimo.
Artikel Terkait
Wall Street Melemah, Sektor Teknologi Tertekan oleh Kekhawatiran AI dan Data Pasar Tenaga Kerja
OJK Bentuk Satgas Reformasi Integritas Pasar Modal, Naikkan Batas Free Float Jadi 15%
IHSG Turun 0,53% ke 8.103,88, Mayoritas Sektor Terkoreksi
Rupiah Melemah ke Rp16.842 per Dolar Dihantam Sentimen Geopolitik Timur Tengah