Geliat pembangunan Masjid Al-Huda di Pedukuhan Gari, Gunungkidul, kini kembali terasa. Padahal, kisahnya sempat bikin hati warga setempat miris. Masjid yang sudah berdiri puluhan tahun itu terpaksa dirobohkan, lantaran janji manis seorang calon donatur yang akhirnya menguap begitu saja. Tapi, rupanya cerita itu justru memantik gelombang solidaritas yang luar biasa.
Donasi pun mengalir deras, dari mana-mana. Hingga Jumat lalu, 9 Januari, angka yang terkumpul dikabarkan sudah nyaris menyentuh Rp 1 miliar.
“Mungkin saat ini hampir Rp 1 miliar sampai sore ini,” ujar Budi Antoro, Ketua Panitia Pembangunan.
Budi bilang, sumbangan datang dari berbagai lapisan. Ada yang kasih material bangunan, ada juga yang langsung transfer uang tunai dengan nominal yang gak main-main. “Ada dari pejabat, ada Bu Kapolres, ada juga dari kalangan bawah. Semuanya hampir merata,” jelasnya.
Di lokasi, pekerjaan sudah mulai bergulir. Fokusnya sekarang pada pengerjaan talud, yang ditargetkan tuntas akhir bulan ini. Setelah itu, bakal dilanjutkan dengan pembuatan cakar ayam.
“Kalau besok pagi alat berat sudah datang, kemungkinan sudah bisa dilakukan pengerukan untuk calon cakar ayam,” tambah Budi.
Target Peletakan Batu Pertama
Kalau semua berjalan sesuai rencana, peletakan batu pertama akan digelar awal Februari. “Rencana tanggal 2 atau 3 Februari peletakan batu pertama,” beber Budi.
Dana sebesar itu memang dibutuhkan. Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang disusun panitia menunjukkan angka sekitar Rp 1,8 miliar untuk menyelesaikan seluruh pembangunan. “Pokoknya kita berjalan terus sampai finishing, sampai selesai. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar,” harapnya.
Lantas, bagaimana cerita awalnya sampai masjid harus dirubuhkan?
Bermula November lalu. Warga yang ingin merenovasi masjid tua berdiri sejak 1984 itu didatangi dua orang. Mereka mengaku bisa menghubungkan dengan yayasan donatur yang bersedia membiayai penuh. Syaratnya cuma satu: bangunan lama harus dirobohkan dulu.
Dengan penuh harap, warga pun menuruti. Tapi, setelah puing-puing berserakan, janji itu tinggal janji. Konfirmasi ke yayasan yang disebut-sebut di Tangerang dan tokoh yang dijanjikan malah berujung pada pengakuan mengejutkan: mereka sama sekali tidak tahu menahu soal rencana donasi ini.
Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Tapi, alih-masing menyimpan dendam atau melaporkan ke polisi, warga memilih untuk ikhlas. Mereka kompak bangkit. Gotong royong digiatkan, jaringan donatur dibuka lebar-lebar. Dan lihatlah sekarang, dari kepedihan itu justru lahir sebuah harapan baru yang jauh lebih kuat.
Artikel Terkait
MotoGP Italia 2026: Kualifikasi dan Sprint Race di Mugello Hari Ini, Veda Ega Pratama Jadi Sorotan
Polisi Gerebek Tempat Hiburan Malam di Medan, Tangkap Karyawan dan Sita Delapan Butir Ekstasi
Jay Idzes Dipastikan Absen Bela Timnas Indonesia pada FIFA Matchday Juni 2026 Akibat Cedera Otot Kambuh
Gempa Magnitudo 2,4 Guncang Cirebon, BMKG: Tak Berpotensi Kerusakan