Waste-to-Energy Solusi Sampah: Belajar dari Kesuksesan China untuk Indonesia Bersih

- Senin, 03 November 2025 | 17:42 WIB
Waste-to-Energy Solusi Sampah: Belajar dari Kesuksesan China untuk Indonesia Bersih

Waste-to-Energy: Solusi Atasi Masalah Sampah di Indonesia Menuju Kota Bersih

Pemerintah Indonesia kini secara aktif mendorong proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau yang dikenal dengan Waste-to-Energy (WtE). Langkah strategis ini diambil untuk mengatasi tumpukan sampah yang semakin menggunung di berbagai daerah.

Stefanus Ade Hadiwidjaja, Managing Director Investment Danantara, menyampaikan optimisme yang tinggi bahwa proyek WtE ini dapat menjadi solusi jangka panjang persampahan di Indonesia. Menurutnya, dengan komitmen yang kuat, Indonesia berpotensi terbebas dari masalah sampah dalam waktu satu hingga dua dekade ke depan.

“Kita bercita-cita dalam 5, 10, 15 tahun mendatang isu sampah di Indonesia semakin hilang dan kita dapat menikmati lingkungan kota yang lebih bersih dan sehat,” ujar Stefanus dalam sebuah kesempatan.

Belajar dari Kesuksesan China Mengolah Sampah

Stefanus mencontohkan kesuksesan China dalam menangani persoalan sampah. Dua dekade lalu, negara dengan populasi raksasa itu juga dilanda krisis sampah yang parah. Setiap harinya, miliaran kilogram sampah dihasilkan oleh warganya.

Perubahan drastis terjadi ketika Pemerintah China berinvestasi besar-besaran pada teknologi incinerator untuk mengonversi sampah menjadi sumber energi. Teknologi ini terbukti efektif mengurangi volume sampah hingga 90%, sekaligus menghasilkan listrik dan residu yang dapat dimanfaatkan kembali.

Keunggulan Teknologi Waste-to-Energy

Proses pengolahan sampah menjadi energi ini memiliki beberapa keunggulan signifikan. Sisa pembakaran (fly ash) yang dihasilkan sangat minimal. Sementara itu, bottom ash-nya dapat didaur ulang menjadi material konstruksi seperti bata. Bahkan air lindi (cairan sampah) yang terkenal bau dan kotor dapat diolah menjadi air bersih yang layak.

Kini, China telah memiliki lebih dari 1.100 fasilitas incinerator yang masing-masing mampu mengolah lebih dari 1.000 ton sampah per hari. Keberhasilan ini membuat sebagian besar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tradisional di negara tersebut berhasil ditutup dan dibersihkan.

Masa Depan Pengelolaan Sampah di Indonesia

Stefanus menegaskan bahwa teknologi WtE bukanlah teknologi yang rumit. Intinya adalah penggunaan incinerator yang efisien untuk mengubah sampah menjadi energi. Yang menarik, fasilitas pengolahan sampah modern dapat didesain sedemikian rupa sehingga tidak terlihat seperti pabrik pembakaran, bahkan dapat dikombinasikan dengan taman bermain atau perpustakaan.

Indonesia dinilai berada pada posisi yang sama dengan China dua dekade lalu sebagai negara berkembang yang tumbuh pesat. Dengan menerapkan teknologi pengolahan sampah yang serupa, diyakini permasalahan sampah yang selama ini membebani Indonesia dapat diatasi dengan baik.

“Jika China bisa, mengapa kita tidak? Melalui investasi dan teknologi yang tepat, kita dapat bersama-sama menyelesaikan isu sampah yang sudah sangat mendesak ini,” pungkas Stefanus.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar