Pencapaian Operasional dan Tantangan RKAB 2026
Dari sisi operasional, kinerja NICL tetap solid dengan tingkat produksi hingga kuartal III 2025 yang telah mencapai 92,48% dari target RKAB yang disetujui. Untuk memenuhi kebutuhan pasar hingga akhir tahun, NICL telah mengajukan pembaruan RKAB kepada Kementerian ESDM.
Ruddy juga mengakui adanya tantangan. "Meski kinerja kami memuaskan, capaian ini belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi internal karena proses pengajuan RKAB yang masih berlangsung menjadi tantangan tersendiri," tambahnya.
Outlook dan Strategi Ke Depan
Memasuki kuartal IV 2025, NICL memperkirakan harga nikel masih akan fluktuatif. Faktor penyebabnya adalah kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat dan potensi kelebihan pasokan global. Di balik tantangan ini, terbuka peluang bagi Indonesia, termasuk NICL, untuk menjadi pemasok logam kritis non-China di tengah ketegangan geopolitik.
Perusahaan juga menghadapi tantangan regulasi domestik, seperti masa berlaku RKAB yang kini hanya satu tahun, yang menuntut pembaruan dokumen teknis secara lebih intensif.
Sebagai penutup, NICL berkomitmen untuk memenuhi seluruh kuota RKAB 2025 sambil menunggu persetujuan RKAB 2026, dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola dan ESG (Environmental, Social, and Governance). Hingga akhir 2025, perusahaan menargetkan produksi gabungan sebesar 2,6 juta ton bijih nikel, yang didukung oleh program pengeboran lanjutan dan kemitraan strategis dengan sejumlah smelter dan trader di kawasan Sulawesi, Pulau Obi, dan Halmahera.
Artikel Terkait
BREN Pacu Kapasitas Panas Bumi, Targetkan Lampaui 1 GW pada 2026
CP Prima Catat Laba Bersih Rp424 Miliar, Naik 32% pada 2025
Laba Bersih INKP dan TKIM Berjalan Berbeda Meski Penjualan Sama-Sama Turun Tipis
Kementerian Pertanian Siapkan Rp9,5 Triliun untuk Hilirisasi 7 Komoditas Andalan