Proyeksi IHSG Hari Ini: Analis Prediksi Penguatan, Simak Rekomendasi Sahamnya
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (31/10). Hal ini menyusul penutupan positif IHSG di level 8.184,06 atau menguat 0,22 persen pada sesi sebelumnya, Kamis (30/10).
Analisis Teknikal dan Proyeksi Level Kunci IHSG
Analis MNC Sekuritas menilai penguatan IHSG kemarin didukung oleh peningkatan volume pembelian. Pergerakan indeks berhasil bertahan di atas Moving Average (MA) 20 dan mencapai target minimal.
Secara teknikal, skenario terbaik menunjukkan IHSG berada di awal wave (iii) dari wave [iii], yang membuka peluang untuk melanjutkan tren penguatan. Area resisten atau target penguatan terdekat IHSG diperkirakan berada di kisaran level 8.268 hingga 8.354.
Dari sisi indikator teknikal, histogram negatif MACD mulai menyempit dan Stochastic RSI membentuk pola golden cross di area pivot. Konfigurasi ini mendukung potensi IHSG untuk menguji level 8.250. Namun, perlu diwaspadai risiko pullback jangka pendek akibat aksi ambil untung di akhir pekan, dengan level penopang kunci di sekitar MA20 pada level 8.153.
Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak sideways dalam kisaran 8.150-8.250 pada perdagangan Jumat ini.
Rekomendasi Saham Pilihan Analis
MNC Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk diperhatikan pada perdagangan Jumat (31/10), yaitu:
- ADMR
- ANTM
- DEWA
- ERAA
Sementara itu, Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi saham yang berbeda untuk dipantau:
- PGAS
- ITMG
- INCO
- TOWR
- SCMA
- EMTK
Sentimen Pasar dan Kondisi Global
Pada perdagangan Kamis (30/10), penguatan IHSG terutama didorong oleh saham-saham dari sektor teknologi, energi, dan keuangan. Namun, Rupiah mengalami tekanan dan melemah ke level Rp 16.636 per Dolar AS, seiring dengan pelemahan mata uang negara-negara Asia lainnya.
Di kawasan Asia, indeks saham ditutup bervariasi. Indeks Kospi Korea Selatan bahkan mencatat rekor tertinggi, sementara bursa saham Tiongkok dan Hong Kong justru melemah. Kebijakan monetur Bank of Japan (BoJ) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 0,5 persen (level tertinggi sejak 2008) sesuai dengan ekspektasi pasar.
Dari sisi geopolitik, pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Busan, Korea Selatan, membawa angin positif. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan penurunan tarif impor AS untuk produk terkait obat fentanil dari 20 persen menjadi 10 persen.
Kesepakatan ini menurunkan total tarif impor AS atas produk Tiongkok menjadi 47 persen dari sebelumnya 57 persen. Sebagai bagian dari kesepakatan, AS juga menunda rencana perluasan daftar hitam bagi perusahaan Tiongkok, dan di sisi lain, Tiongkok menangguhkan pembatasan ekspor mineral tanah jarang selama satu tahun. Rencana kunjungan timbal balik kedua pemimpin negara dijadwalkan akan berlangsung pada bulan April mendatang.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan analisis pribadi. Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual instrumen investasi tertentu.
Artikel Terkait
Surya Hadiwinata Resmi Ditunjuk sebagai Direktur Utama MDTV Media Technologies Gantikan Lie Halim
OJK Dukung KEK Keuangan di Bali untuk Percepat Pendalaman Pasar Modal Nasional
Adhi Karya Rombak Jajaran Komisaris dan Direksi, Angkat Alexander Ruby Setyoadi sebagai Komisaris Baru
Wall Street Bertahan di Dekat Rekor Tertinggi, Harga Minyak Anjlok Imbas Harapan Kesepakatan AS-Iran