Rosan mengungkapkan bahwa praktik pelaporan keuangan yang tidak akurat masih sering ditemui di sejumlah BUMN. Salah satu pola umum yang terjadi adalah upaya untuk mempercantik laporan laba rugi agar terlihat tinggi, padahal kenyataannya tidak didukung oleh fundamental keuangan yang sehat.
"Ada komisaris yang mendorong supaya profitnya tinggi tapi dengan cara istilahnya mempercantik buku, misalnya laporan keuangan dibedakin," tegasnya.
Komitmen Zero Tolerance terhadap Fraud
Rosan menegaskan bahwa Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia ini tidak akan mentolerir atau membiarkan praktik penipuan (fraud) semacam itu berlanjut. Tindakan koreksi ini merupakan implementasi langsung dari kebijakan "zero tolerance" Danantara terhadap segala bentuk korupsi dan manipulasi laporan keuangan di tubuh BUMN.
"Saya punya zero tolerance terhadap korupsi dan lain-lain (praktik manipulasi). Kita tidak segan-segan untuk mengambil tindakan semaksimal mungkin," pungkas Menteri Investasi tersebut.
Artikel Terkait
APBI Soroti Pemangkasan Produksi Batu Bara 2026, Ancaman PHK dan Guncangan Ekonomi Mengintai
Erajaya Pacu Ekspansi, Bidik Kenaikan Laba 18% dengan Strategi Gaya Hidup dan EV
Trump Tunjuk Kevin Warsh Pimpin Fed, Ekonom Terbelah
Yogya Galang Dana Kreatif, Atasi Rp32 Triliun yang Tidur di Bank