Pelabuhan Patimban diyakini bakal menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. Keyakinan itu muncul seiring dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Pengembangan pelabuhan yang ditargetkan berlangsung hingga 2042 itu diharapkan mampu menarik investasi baru sekaligus memperkuat daya saing logistik nasional.
Kepala Kantor Perwakilan JICA di Indonesia, Takeda Sachiko, mengatakan keberadaan Pelabuhan Patimban diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan sekitarnya melalui masuknya investasi baru.
"Jadi dengan dibukanya Pelabuhan Patimban ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan sekitar Pelabuhan Patimban dengan menarik para investor baru untuk berinvestasi lagi di sekitar area ini," kata Takeda di Kantor Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat, Kamis (9/7).
Berdasarkan laman resmi JICA, lembaga tersebut mendukung pembangunan Pelabuhan Patimban melalui skema Pinjaman Lunak Official Development Assistance (ODA) Jepang senilai sekitar 272,5 miliar yen. Pendanaan tersebut terdiri atas pinjaman tahap pertama sebesar 118,9 miliar yen dan tahap kedua sebesar 70,2 miliar yen yang disalurkan pada 2022.
Mengacu pada master plan, pengembangan Pelabuhan Patimban akan dilakukan dalam tiga fase hingga 2042. Pada tahap awal hingga 2027, kapasitas terminal peti kemas ditargetkan mencapai sekitar 3,39 juta TEUs dan terminal kendaraan 400 ribu unit, disertai pendalaman alur pelayaran hingga 14 meter. Selanjutnya, pada fase kedua yang ditargetkan rampung pada 2032, akan dibangun terminal peti kemas tambahan berkapasitas 2,73 juta TEUs, terminal curah cair (liquid bulk), jaringan perpipaan, serta fasilitas logistik berbasis kereta api. Adapun fase ketiga yang ditargetkan selesai pada 2042 akan menambah kapasitas terminal peti kemas menjadi 1,38 juta TEUs, membangun multipurpose terminal, jalur kereta logistik, serta memperdalam alur pelayaran hingga 17 meter agar mampu melayani kapal berukuran lebih besar.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pelabuhan Patimban Indonesia (PPI) Fuad Rizal meyakini Pelabuhan Patimban tetap memiliki prospek yang kuat meski muncul isu relokasi sejumlah pabrik dari Jawa Barat ke Jawa Tengah akibat persoalan upah tenaga kerja. Menurut Fuad, keputusan investor tidak hanya mempertimbangkan biaya tenaga kerja, tetapi juga efisiensi rantai logistik secara keseluruhan. Dengan kedalaman alur pelayaran yang telah mencapai lebih dari 10 meter, Patimban mampu melayani kapal berukuran besar sehingga pengiriman barang dapat dilakukan dalam volume lebih besar dan lebih efisien.
"Memang dari sisi tenaga kerja (Jawa Tengah) lebih murah, tapi pada saat bicara logistik, kita tidak hanya bicara cost manpower saja, tetapi juga biaya trucking dan shipping. Nah, itu bisa dilakukan dengan efisien di Patimban," ujar Fuad. Ia menambahkan, keunggulan tersebut menjadi nilai tambah yang diyakini mampu menjaga daya saing Pelabuhan Patimban di tengah dinamika industri manufaktur dan perubahan lokasi investasi di Pulau Jawa.
Artikel Terkait
Pelabuhan Patimban Bidik Rute Langsung ke Eropa dan AS