Megawati: Perpisahan dengan Timor-Leste Bukan Tragedi, Melainkan Kelahiran Saudara Baru

- Kamis, 09 Juli 2026 | 19:24 WIB
Megawati: Perpisahan dengan Timor-Leste Bukan Tragedi, Melainkan Kelahiran Saudara Baru

Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Timor-Leste telah melampaui luka sejarah. Kini, hubungan kedua negara dibangun di atas semangat rekonsiliasi, persaudaraan, dan kerja sama untuk menghadapi tantangan masa depan. Pernyataan itu disampaikan dalam Kuliah Kepresidenan bertajuk "Dua Negara Merangkai Cita-Cita Bersama" di Dili, Timor-Leste, Kamis (9/7). Acara tersebut dihadiri Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta, Perdana Menteri Xanana Gusmão, serta sejumlah pejabat tinggi dan tamu undangan.

Dalam pidatonya, Megawati mengenang momen bersejarah saat menghadiri restorasi kemerdekaan Timor-Leste pada 20 Mei 2002 sebagai Presiden RI. Ia mengaku masih ingat ketika bendera Merah Putih diturunkan bendera yang memiliki makna emosional karena dijahit oleh ibundanya, Fatmawati. Meski banyak pihak menganggap peristiwa itu sebagai perpisahan, Megawati memiliki pandangan berbeda. "Selama 24 tahun saya menyimpan rapat jawaban itu. Peristiwa itu bukanlah tragedi perpisahan. Malam itu menjadi saksi lahirnya Timor-Leste sebagai saudara Indonesia. Itulah makna rekonsiliasi sejati," ungkapnya, disambut tepuk tangan riuh.

Megawati menegaskan bahwa kedua negara telah menemukan jalan peradaban baru: mengingat sejarah tanpa menyimpan dendam dan memaafkan tanpa melupakan. Dalam kuliahnya, ia juga menyoroti pentingnya memperkuat kepemimpinan perempuan. Sebagai presiden perempuan pertama Indonesia, ia mendorong perempuan Timor-Leste berani mengambil peran dalam pengambilan keputusan. "Tuhan memberikan kekuatan biologis dan mental yang luar biasa kepada perempuan. Perempuan tidak hanya melahirkan anak manusia, tapi juga melahirkan dan membesarkan bangsa," tegasnya.

Di samping itu, Megawati mengingatkan pentingnya regulasi terkait perkembangan kecerdasan buatan (AI). Ia mendorong Timor-Leste mulai menyiapkan payung hukum untuk mengantisipasi penyalahgunaan teknologi tersebut. Di bidang ekonomi, Megawati menawarkan kerja sama riset melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan koridor pertumbuhan ekonomi yang menghubungkan Nusa Tenggara Timur, Dili, dan Papua.

Tawarkan Kerja Sama Kaderisasi

Megawati juga menawarkan kerja sama kaderisasi politik antara PDIP dan partai-partai politik di Timor-Leste guna memperkuat kualitas kepemimpinan di kedua negara. Menutup kuliah kepresidenannya, ia mengajak generasi muda Indonesia dan Timor-Leste menjaga semangat persaudaraan melalui penyelesaian batas wilayah, pertukaran pelajar dan guru, serta penguatan kerja sama di ASEAN. "Dari Dili, kota para pejuang, marilah kita kabarkan kepada dunia bahwa meski kini kita hadir sebagai dua negara, namun kita disatukan oleh cita-cita bersama membangun jalan peradaban bagi dunia. Merdeka!" tutup Megawati.

Usai kuliah, Megawati menghadiri konferensi pers bersama Perdana Menteri Xanana Gusmão dan Presiden José Ramos-Horta. Dalam kesempatan itu, ia kembali menegaskan komitmennya memperkuat kapasitas politisi perempuan di Timor-Leste melalui program kaderisasi kepartaian. Gagasan tersebut muncul setelah mendapat aspirasi langsung dari politisi perempuan Timor-Leste. "Tadi ibu-ibu ada yang mengatakan, 'Ibu, cepat bikin kursus buat ibu-ibu perempuan partai.' Oke, saya bilang saya senang sekali," ujar Megawati.

Megawati mengatakan PDIP siap membuka ruang pelatihan kepemimpinan bagi perempuan Timor-Leste agar semakin percaya diri tampil di ruang-ruang pengambilan keputusan. Ia juga mencontohkan berbagai program pemberdayaan perempuan melalui UMKM yang selama ini dijalankan Ketua DPP PDI Perjuangan Bintang Puspayoga. Menurut Megawati, pola pemberdayaan ekonomi tersebut dapat diterapkan kepada para perajin kain tenun tradisional Tais di Timor-Leste agar lebih mandiri dan mampu menembus pasar internasional.

Komitmen Megawati mendapat apresiasi dari Perdana Menteri Xanana Gusmão. Ia menilai kehadiran Megawati menjadi inspirasi bagi masyarakat Timor-Leste, khususnya kaum perempuan. "Ini suatu hari yang kita tidak akan lupakan, karena kita menerima di Istana ini seseorang yang historis. Secara... yang tadi menyadarkan kita tentang kehidupan baru sekarang. Ibu Megawati ini adalah contoh untuk semua perempuan di Timor-Leste, agar jangan berpikiran kecil-kecil setiap harinya," tegas Xanana dengan penuh rasa hormat. Ia menambahkan, keteladanan Megawati juga patut dicontoh seluruh rakyat Timor-Leste. "Dan... semua-semua aspek kehidupan. Inilah, ya, bukan hanya perempuan, perempuan Timor-Leste, tapi juga laki-laki, itu kita harus belajar dari Ibu ini. Karena kita harus percaya pada diri sendiri," tambah Xanana, menekankan pentingnya mentalitas berdikari.

Di balik agenda resmi, suasana konferensi pers berlangsung hangat. Sesaat sebelum acara dimulai, sejumlah politisi perempuan Timor-Leste meminta berfoto bersama Megawati. Melihat momen itu, Xanana berkelakar dengan mengangkat sebungkus rokok seolah-olah menjadi kamera dan berpura-pura memotret mereka. "Satu, ... dua, tiga..." seru Xanana lantang sambil berpura-pura menekan tombol rana kamera dengan rokoknya. Aksi spontan itu disambut tawa Megawati dan para politisi perempuan yang hadir.

Suasana akrab kembali terlihat ketika Megawati mengingatkan pentingnya perlindungan hak kekayaan intelektual bagi kain tenun Tais agar tidak diklaim negara lain. Xanana pun menanggapinya dengan candaan. "Kalau begitu, tolong partai Anda... tolong beli Tais dari Timor-Leste sebanyak-banyaknya," goda Xanana sambil tertawa. Megawati langsung menyambutnya. "Boleh, boleh! Saya akan borong dan bagikan kepada ibu-ibu di Jakarta," jawab Megawati dengan raut wajah semringah. Konferensi pers tersebut turut dihadiri Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta beserta jajaran kedua negara.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags