Bursa Asia Menguat, Data Tenaga Kerja AS Redam Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

- Jumat, 03 Juli 2026 | 09:30 WIB
Bursa Asia Menguat, Data Tenaga Kerja AS Redam Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Bursa saham Asia kompak menguat pada perdagangan Jumat (3/7/2026) pagi, setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Sentimen positif itu mampu mengimbangi kekhawatiran investor terhadap besarnya investasi di infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan lapangan kerja hanya 57.000 pada Juni, jauh di bawah perkiraan ekonom yang memperkirakan kenaikan 115.000. Data tersebut mendorong pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada musim panas tahun ini.

Analis Commerzbank Research mengatakan perhatian pasar tertuju pada data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan di tengah aksi jual lanjutan saham-saham semikonduktor.

"Tema utama pasar adalah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan dan aksi jual lanjutan saham semikonduktor. Kontrak berjangka Fed funds kini hanya mencerminkan kenaikan suku bunga sekitar 30 basis poin hingga akhir tahun, turun dari 36 basis poin pada Rabu," tulis Commerzbank Research dalam risetnya.

Di kawasan Asia, indeks Nikkei Jepang naik 0,37 persen, Kospi Korea Selatan melonjak 2,23 persen, dan Hang Seng Hong Kong menguat 1,80 persen. Shanghai Composite bertambah 0,25 persen, ASX 200 Australia naik 1,04 persen, sementara Straits Times Index (STI) Singapura menguat 0,17 persen.

Di pasar valuta asing, yen melemah terhadap sebagian besar mata uang G10 dan Asia akibat aksi koreksi teknikal. Mata uang Jepang tersebut sebelumnya sempat menguat tajam setelah data nonfarm payrolls AS yang lebih lemah mendorong pelaku pasar mengurangi posisi beli dolar AS, terutama terhadap yen.

Kepala Valuta Asing, Internasional, dan Geoekonomi CBA, Joseph Capurso, mengatakan libur Hari Kemerdekaan AS membuat likuiditas pasar valuta asing menjadi tipis sehingga berpotensi menjadi waktu yang tepat bagi pemerintah Jepang untuk melakukan intervensi.

"Dengan pasar AS tutup karena perayaan Hari Kemerdekaan, likuiditas di pasar valuta asing akan tipis. Ini merupakan waktu yang ideal bagi intervensi untuk memberikan dampak besar terhadap pasar," kata Capurso. Menurutnya, Kementerian Keuangan Jepang juga pernah mengejutkan pasar dengan melakukan intervensi saat hari libur nasional.

Sementara itu, Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, kembali menegaskan pada Jumat pagi bahwa pemerintah siap mengambil langkah yang diperlukan di pasar valuta asing apabila dibutuhkan. Pemerintah Jepang juga disebut terus menjalin komunikasi erat dengan pemerintah AS terkait perkembangan pasar mata uang.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags