Perang di Ukraina Ubah Perilaku Satwa Liar, Burung Gunakan Kabel Drone untuk Sarang

- Jumat, 03 Juli 2026 | 10:38 WIB
Perang di Ukraina Ubah Perilaku Satwa Liar, Burung Gunakan Kabel Drone untuk Sarang

Perang di Ukraina tidak hanya mengubah lanskap politik dan kemanusiaan, tetapi juga memengaruhi perilaku satwa liar di sekitarnya. Para peneliti menemukan sarang burung yang terbuat dari sisa kabel serat optik drone di dekat garis depan pertempuran, sebuah fenomena yang menunjukkan bagaimana alam beradaptasi di tengah modernisasi konflik.

Kabel serat optik banyak berserakan di medan perang karena digunakan oleh pasukan Ukraina maupun Rusia untuk memandu drone tempur agar kebal dari gangguan sinyal elektronik. Kabel tipis yang bisa membentang hingga 20 kilometer itu kini menyelimuti pepohonan, ladang, hingga atap bangunan di wilayah konflik.

Yana Hrynko, peneliti senior di Museum Perang Kyiv, mengatakan temuan sarang burung yang terbuat dari campuran rumput kering dan kabel serat optik ini menunjukkan perubahan dalam karakteristik perang. "Objek seperti sarang burung dengan pecahan serat optik ini menunjukkan perubahan dalam karakteristik perang," kata Hrynko. Pihak militer Ukraina telah mengirimkan dua sampel sarang unik tersebut ke museum.

Menanti Hasil Tes DNA dari Belanda

Peneliti saat ini belum mengetahui spesies burung yang merajut sarang-sarang tersebut. Untuk memecahkan misteri ini, salah satu sarang dikirim ke Belanda untuk dianalisis oleh Auke-Florian Hiemstra, seorang ahli biologi asal Leiden yang mendalami material sarang buatan. Tim peneliti berencana melacak sisa-sisa DNA yang tertinggal pada sarang untuk mengidentifikasi spesiesnya.

Menurut Hiemstra, penggunaan material sisa perang ini memiliki dampak ganda bagi kelangsungan hidup burung. Di satu sisi, kabel serat optik yang tajam dan panjang berisiko menjerat tubuh burung hingga menyebabkan cedera. Namun di sisi lain, serat optik yang kuat berpotensi membuat struktur sarang lebih kokoh dari badai. Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana perang modern terus meninggalkan jejaknya pada ekosistem alam.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags